Dr. Drs. Mohamad Sinal, S.H., M.H., M.Pd
Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
Ada ungkapan yang belakangan sering terdengar di kalangan pelari: “If you can run in Jakarta, you can run anywhere.” Kalimat itu lahir dari pengalaman menghadapi panas, kelembapan, polusi, dan kerasnya lingkungan perkotaan Jakarta yang membuat aktivitas berlari terasa lebih berat. Maknanya sederhana: siapa yang terbiasa menghadapi keadaan sulit akan lebih siap ketika tantangan yang lebih besar datang.
Ungkapan tersebut bukan berbicara tentang bulu tangkis. Namun semangat di baliknya terasa relevan untuk membaca perjalanan Mohammad Zaki Ubaidillah, atau Ubed. Anak muda yang lahir di Sampang, Madura, pada 26 Juni 2007. Dari sebuah pulau yang jauh dari pusat pembinaan bulu tangkis nasional, ia berhasil menembus batas-batas yang dahulu mungkin hanya menjadi impian.
Ubed mengenal raket sejak masih kecil. PBSI mencatat Ubed sudah bermain bulu tangkis sejak taman kanak-kanak dan mengikuti perlombaan di sekolah di kampung halamannya. Sebelum kelas satu sekolah dasar Ubed berlatih di PB Rahmat, Pati. Perjalanan itu kemudian membawanya berpindah ke sejumlah kota, dari Gresik, Surabaya, hingga Klaten, sebelum akhirnya bergabung dengan PB Djarum Kudus pada 2019.
Membaca kisah tersebut, perjalanan Ubed menjadi menarik. Ia tidak lahir di tengah fasilitas olahraga kelas dunia dan tidak pula memulai langkah dari pusat bulu tangkis nasional. Ia datang dari Madura dengan satu modal yang sering kali jauh lebih menentukan: keberanian meninggalkan kenyamanan untuk mengejar kemungkinan.
Madura memang mempunyai sejarah panjang tentang ketangguhan. Alamnya mengajarkan masyarakat bekerja keras, tradisinya membentuk keberanian, sementara kehidupan sosialnya menempatkan kehormatan dan harga diri sebagai nilai yang dijaga. Karakter semacam itulah yang seakan ikut terbawa ketika seorang anak Sampang berdiri di lapangan membawa nama Indonesia.
Perjalanannya tentu tidak selalu menghasilkan kemenangan. Ubed pernah menjalani proses panjang mencari klub yang sesuai, berkompetisi sejak usia muda, menang dan kalah dalam berbagai turnamen, namun terus melakukan evaluasi. Bahkan ketika menang, ia pernah mengatakan bahwa setiap turnamen tetap harus dievaluasi dan menjadi kesempatan untuk membuktikan kemampuan terbaiknya.
Hasilnya mulai terlihat. Pada 2024, Ubed menjadi bagian dari keberhasilan Indonesia merebut Piala Suhandinata pada Kejuaraan Dunia Junior, meraih perunggu tunggal putra Kejuaraan Dunia Junior, perak tunggal putra PON XXI, serta menjuarai Indonesia Masters Super 100. Pada akhir tahun yang sama, ia dipanggil masuk Pelatnas PBSI dan langsung ditempatkan di jajaran utama.
Namun panggung terbesar datang dua tahun kemudian. Pada final beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Indonesia berhadapan dengan China dan pertandingan berlangsung hingga partai kelima. Kedudukan 2–2 membuat satu pertandingan terakhir menentukan apakah Merah Putih akan berdiri di podium tertinggi atau harus menerima kekalahan.
Tanggung jawab itu jatuh kepada Ubed, yang usianya baru 19 tahun. Di seberang net berdiri Weng Hongyang, sementara di pundaknya terdapat harapan sebuah negara yang telah menunggu 28 tahun untuk kembali meraih emas beregu putra Asian Games. Ubed mengakui dirinya sempat tegang: sebelum pertandingan penentuan itu, ia bahkan menelepon orang tuanya.
Namun tekanan tidak membuatnya kehilangan kendali. Ubed memenangi pertandingan dalam dua gim, 23–21 dan 21–13, memastikan Indonesia menundukkan China 3–2. Anak muda dari Sampang itu pun menjadi penentu berakhirnya penantian panjang Indonesia untuk kembali meraih emas beregu putra Asian Games.
Pada titik itulah ungkapan “If you can run in Jakarta, you can run anywhere” menemukan makna yang berbeda. Ketangguhan tidak selalu lahir di tempat yang nyaman, dan seorang juara tidak selalu dibesarkan oleh perjalanan yang lurus. Sering kali, kesulitan adalah jalan panjang yang menempa seseorang sebelum kesempatan besar datang mengetuk pintu
Ubed telah “berlari” jauh sebelum berdiri di panggung Asian Games. Ia berlari dari Sampang menuju Pati, berpindah dari satu tempat latihan ke tempat lain, menemukan jalan ke Kudus, lalu memasuki Pelatnas Cipayung. Setiap perpindahan adalah jarak yang harus ditempuh, tetapi sekaligus bagian dari pembentukan dirinya.
Oleh karena itu, kemenangan Ubed seharusnya tidak hanya dibaca sebagai cerita olahraga. Ada pesan sosial yang jauh lebih besar bahwa tempat kelahiran tidak menentukan batas pencapaian seseorang. Anak yang tumbuh jauh dari pusat kekuasaan, pusat ekonomi, bahkan pusat pembinaan olahraga sekalipun tetap dapat berdiri di panggung dunia ketika bakat bertemu kesempatan, pembinaan, disiplin, dan ketekunan.
Prestasi Ubed sekaligus memberikan pelajaran bagi Madura. Pulau ini mempunyai sumber daya manusia yang tidak sedikit, tetapi bakat tidak akan berkembang hanya dengan kebanggaan terhadap identitas daerah. Dibutuhkan fasilitas, pembinaan sejak dini, kompetisi yang berkelanjutan, dukungan keluarga, serta keberanian pemerintah daerah dan masyarakat untuk membuka jalan bagi anak-anak berbakat.
Jangan sampai keberhasilan seorang Ubed hanya menghasilkan spanduk ucapan selamat. Prestasinya semestinya menjadi momentum untuk bertanya berapa banyak “Ubed” lain yang masih berada di desa-desa Sampang, Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep tetapi belum menemukan lapangan, pelatih, atau kesempatan yang tepat. Prestasi terbaik adalah prestasi yang mampu melahirkan generasi berikutnya.
Ubed juga menunjukkan bahwa identitas daerah tidak pernah bertentangan dengan identitas kebangsaan. Ia lahir sebagai putra Madura, tumbuh melalui pembinaan di berbagai daerah, dan akhirnya bertanding sebagai putra Indonesia. Ketika raketnya menghasilkan poin terakhir, yang berkibar bukan bendera Sampang atau Madura, melainkan Merah Putih.
Di situlah kebanggaan daerah menemukan bentuknya yang paling indah. Kita boleh mengatakan bahwa Ubed berasal dari Sampang dan bangga menyebutnya putra Madura, tetapi prestasinya telah melampaui batas geografis tempat ia dilahirkan. Ia berangkat dari Madura, tetapi berjuang untuk Indonesia.
Dengan demikian, perjalanan Ubed mengingatkan bahwa tidak ada tempat yang terlalu jauh untuk memulai sebuah mimpi. Kesulitan bahkan dapat menjadi ruang tempat ketangguhan dibentuk, sepanjang tersedia kemauan untuk terus bergerak dan kesempatan untuk berkembang. If you can run in Jakarta, you can run anywhere—dan jika seorang anak dari Pulau Madura berani terus melangkah, panggung Asia pun bukan tempat yang terlalu jauh untuk dituju.
Dari Sampang ia memulai langkah, dari Madura ia membawa ketangguhan, dan untuk Indonesia ia menuntaskan perjuangan. Pada usia 19 tahun, Ubed telah menunjukkan bahwa sebuah mimpi dapat berangkat dari pulau kecil lalu tumbuh menjadi kebanggaan sebuah bangsa. Dari Pulau Madura, Mohammad Zaki Ubaidillah mengibarkan Merah Putih di panggung Asia.
*) Oleh: Dr. Drs. Mohamad Sinal, S.H., M.H., M.Pd Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi geloranews.co.id
*) rubik opini di geloranews untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Kirim tulisan anda beserta Curiculum Vitae dan pas foto ke email : mediageloranews@gmail.com. Tulisan yang layak dan berkualitas setelah melalui review oleh tim redaksi akan dipublikasikan maksimal 3 hari sejak opini dikirim.
*) Kirim tulisan anda beserta Curiculum Vitae dan pas foto ke email : mediageloranews@gmail.com. Tulisan yang layak dan berkualitas setelah melalui review oleh tim redaksi akan dipublikasikan maksimal 3 hari sejak opini dikirim.

