Malang – Paparan debu asbes dalam jangka panjang masih menjadi perhatian di berbagai sektor industri. Material yang selama bertahun-tahun digunakan sebagai bahan bangunan dan insulasi tersebut diketahui dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius apabila serat-seratnya terhirup secara terus-menerus.
Serat asbes berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan tanpa disadari. Dalam jangka panjang, serat tersebut dapat menetap di jaringan paru-paru dan memicu peradangan maupun kerusakan yang berkembang secara perlahan.
Gangguan kesehatan akibat paparan asbes umumnya tidak muncul dalam waktu singkat. Gejala baru dapat dirasakan bertahun-tahun setelah paparan terjadi. Beberapa keluhan yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, hingga penurunan kemampuan paru-paru.
Selain menyebabkan jaringan parut pada paru-paru atau asbestosis, paparan asbes juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko kanker paru dan mesothelioma, yaitu kanker langka yang menyerang selaput paru maupun organ lainnya.
Risiko tersebut umumnya lebih tinggi pada pekerja yang setiap hari berkontak langsung dengan material mengandung asbes tanpa perlindungan yang memadai. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri, sistem ventilasi yang baik, serta penerapan standar keselamatan kerja menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan.
Bagi masyarakat umum, risiko paparan dapat diminimalkan dengan tidak membongkar material yang diduga mengandung asbes secara sembarangan. Apabila diperlukan renovasi bangunan lama, proses pelepasan material sebaiknya dilakukan sesuai prosedur keselamatan agar serat asbes tidak menyebar ke udara.
Kesadaran terhadap bahaya paparan asbes dinilai menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penyakit paru akibat lingkungan kerja maupun paparan di sekitar tempat tinggal. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga dianjurkan bagi individu yang memiliki riwayat paparan dalam jangka waktu lama.












