Malang – Kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) masih dirasakan masyarakat di Kota Malang dan sekitarnya. Sejumlah SPBU dilaporkan kehabisan stok, sementara lokasi yang masih melayani pengisian justru dipadati kendaraan hingga antrean mengular.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah titik, mulai dari kawasan Blimbing, Araya, Soekarno-Hatta (Suhat), hingga Karanglo. Pada malam hingga dini hari 13 Oktober 2026, beberapa SPBU tampak lengang karena tidak memiliki stok, sedangkan SPBU lain dipenuhi kendaraan yang hendak mengisi BBM.
Persoalan ini bukan hanya terjadi di satu kawasan. Dalam beberapa hari terakhir, keluhan serupa muncul dari berbagai wilayah Malang Raya. Warga harus berpindah-pindah SPBU untuk mencari bahan bakar, bahkan menghadapi antrean panjang ketika stok masih tersedia. Situasi tersebut turut menyulitkan masyarakat yang mengandalkan kendaraan untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Di tengah keluhan tersebut, Pertamina menyatakan sedang menyesuaikan pola distribusi BBM. Pengiriman dari Surabaya menuju Malang dijadwalkan tiba tiga kali sehari, yakni sekitar pukul 01.00, 07.00, dan 13.00 WIB. Penyesuaian itu dilakukan di tengah persoalan pasokan dan meningkatnya kebutuhan BBM di wilayah Malang Raya.
Kondisi di lapangan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah bersama pihak terkait. Pemerintah Kota Malang sebelumnya pernah menyatakan ketersediaan BBM aman setelah melakukan pemantauan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah dan Pertamina pada September lalu. Namun, keluhan masyarakat yang masih kesulitan mendapatkan BBM menunjukkan perlunya pemantauan berkelanjutan serta evaluasi terhadap efektivitas distribusi di tingkat SPBU.
Farel, Ketua Bidang Anti Korupsi GERRINDO Kota Malang, menilai pemerintah daerah perlu memastikan koordinasi dengan Pertamina menghasilkan langkah konkret yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Jangan hanya menyampaikan bahwa stok aman, sementara warga masih menemukan SPBU kosong dan harus mengantre panjang di lokasi lain. Pemerintah perlu memastikan kondisi di lapangan terpantau, informasi distribusi disampaikan secara terbuka, dan kendala pasokan segera ditindaklanjuti. Masyarakat membutuhkan kepastian, bukan harus berkeliling mencari BBM tanpa mengetahui kapan stok kembali tersedia,” ujar Farel.
Pemerintah Kota Malang dan Pertamina perlu memberikan penjelasan yang transparan mengenai penyebab kekosongan stok di sejumlah SPBU serta langkah penanganannya. Evaluasi distribusi dan pengawasan kondisi lapangan menjadi penting agar masyarakat tidak terus menanggung dampak berupa antrean panjang, waktu terbuang, hingga terganggunya aktivitas sehari-hari.
