Malang – Penggunaan rokok konvensional maupun rokok elektronik atau vape masih menjadi perhatian dalam dunia kesehatan. Meski vape kerap dianggap sebagai alternatif yang lebih aman, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keduanya tetap memiliki risiko terhadap kesehatan apabila digunakan dalam jangka panjang.
Rokok konvensional mengandung ribuan zat kimia, termasuk tar, karbon monoksida, dan berbagai senyawa beracun yang dapat merusak organ tubuh. Sementara itu, vape menghasilkan aerosol yang mengandung nikotin serta berbagai bahan kimia lain yang juga dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan.
Paparan zat-zat tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, mulai dari penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), bronkitis kronis, penyakit jantung, stroke, hingga beberapa jenis kanker. Penggunaan vape juga dikaitkan dengan iritasi saluran napas, batuk berkepanjangan, serta penurunan fungsi paru pada sebagian pengguna.
Selain berdampak pada paru-paru, kandungan nikotin pada rokok maupun vape dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Nikotin juga bersifat adiktif sehingga membuat seseorang lebih sulit menghentikan kebiasaan merokok atau menggunakan vape.
Remaja dan dewasa muda menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena penggunaan vape cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Beragam pilihan rasa dan desain produk yang menarik dinilai dapat meningkatkan ketertarikan untuk mencoba, meskipun risiko kesehatannya tetap ada.
Masyarakat diimbau untuk tidak menganggap vape sebagai produk yang sepenuhnya aman. Menghentikan kebiasaan merokok maupun menggunakan vape menjadi langkah yang lebih baik untuk menjaga kesehatan paru-paru, jantung, dan organ tubuh lainnya.
Menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menghindari paparan asap rokok juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan. Kesadaran terhadap dampak jangka panjang rokok dan vape diharapkan dapat membantu menurunkan risiko penyakit tidak menular di masa mendatang.
