Home / Berita Terkini / Opini Hukum / Negarawan Menyiapkan Pewaris, Bukan Memelihara Kekuasaan

Negarawan Menyiapkan Pewaris, Bukan Memelihara Kekuasaan

*) Oleh: Mohamad Sinal, Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi geloranews.co.id *) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi geloranews.co.id *) rubik opini di geloranews Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. *) Sertakan nama penulis beserta gelar, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi. *) Kirim tulisan anda beserta pas foto ke email : mediageloranews@gmail.com. Tulisan yang layak akan dipublikasikan maksimal 3 hari sejak opini dikirim

Mohamad Sinal

Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.

Pernyataan Surya Paloh bahwa “bangsa ini tak boleh berharap kepada lansia seperti saya” patut dijadikan renungan daripada sekadar pengakuan mengenai faktor usia. Di balik kalimat yang sederhana itu tersimpan sebuah refleksi penting tentang hakikat kepemimpinan.  Yakni, kesadaran bahwa masa depan bangsa tidak boleh bergantung pada satu generasi, apalagi pada satu figur.

Sebuah bangsa hanya akan bertahan apabila setiap pemimpin mempersiapkan generasi berikutnya untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Pada titik inilah, pernyataan tersebut menjadi relevan untuk melanjutkan diskusi mengenai estafet kepemimpinan.

Dalam teori politik, regenerasi kepemimpinan bukan sekadar persoalan pergantian usia, melainkan mekanisme menjaga keberlangsungan institusi. Samuel P. Huntington mengingatkan bahwa stabilitas politik tidak ditentukan oleh kuat atau lemahnya seorang pemimpin. Hal tersebut ditentukan oleh kemampuan institusi melakukan adaptasi, pembaruan, dan suksesi secara teratur.

Pemimpin boleh berganti, tetapi negara tidak boleh kehilangan arah. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin sesungguhnya tidak berhenti pada apa yang berhasil ia bangun selama berkuasa. Akan tetapi,  juga pada siapa yang disiapkan untuk melanjutkan pembangunan tersebut.

Dalam perspektif itulah, negarawan berbeda dari politisi biasa. Politisi sering kali berpikir dalam horizon pemilu berikutnya. Adapun negarawan berpikir dalam horizon generasi berikutnya.

Politisi cenderung bertanya bagaimana mempertahankan kekuasaan. Sementara negarawan bertanya siapa yang akan menjaga bangsa ketika dirinya tidak lagi berada di panggung kekuasaan. Perbedaan cara berpikir inilah yang menentukan apakah kepemimpinan akan melahirkan keberlanjutan atau justru ketergantungan.

Niccolo Machiavelli, dalam The Prince, mengajarkan pentingnya menjaga kekuasaan sebagai syarat mempertahankan negara. Dalam konteks Italia abad ke-16 yang penuh intrik, gagasan tersebut menemukan relevansinya. Namun, apabila dibaca tanpa keseimbangan moral, paradigma tersebut mudah berubah menjadi pembenaran untuk memperpanjang kekuasaan dengan segala cara.

Dengan demikian, kekuasaan kemudian dipandang sebagai tujuan. Jadi, bukan dipahami sebagai amanah yang harus diwariskan kepada mereka yang lebih mampu untuk melanjutkan. Akibatnya, keberhasilan kepemimpinan sering diukur dari lamanya seseorang bertahan di puncak kekuasaan daripada kualitas generasi penerus yang harus dipersiapkan.

Sehubungan dengan persoalan tersebut, Sirah Nabawiyah memperlihatkan perspektif yang berbeda. Rasulullah saw. membangun kepemimpinan bukan dengan menciptakan ketergantungan kepada dirinya. Akan tetapi, menyiapkan para sahabat agar mampu memikul tanggung jawab pada episode berikutnya.

Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Mu’adz bin Jabal, Khalid bin Walid, dan banyak sahabat lainnya memperoleh ruang untuk tumbuh melalui pendidikan, kepercayaan, dan penugasan yang bertahap. Dengan demikian, kepemimpinan dipahami sebagai proses membangun manusia, bukan sekadar mengendalikan kekuasaan.

Di sinilah letak ukuran kenegarawanan yang sesungguhnya. Seorang negarawan tidak takut munculnya generasi yang lebih cerdas daripada dirinya. Sebaliknya, justru merasa berhasil apabila mampu melahirkan penerus yang bahkan melampaui kualitas kepemimpinannya.

Sebab, ketakutan terhadap regenerasi justru menunjukkan lemahnya kepercayaan diri seorang pemimpin. Semakin besar rasa khawatir kehilangan pengaruh, semakin kecil kemungkinan ia mempersiapkan kader-kader terbaik untuk menggantikannya.

Indonesia sesungguhnya menghadapi persoalan yang lebih kompleks daripada sekadar pergantian generasi. Yang terjadi bukan kekurangan pemuda berbakat, melainkan kekurangan ruang bagi mereka untuk bertumbuh. Banyak organisasi, partai politik, lembaga pemerintahan, bahkan institusi sosial masih terjebak pada budaya personalistik.

Kepemimpinan dipusatkan pada figur tertentu sehingga regenerasi berlangsung lambat, bahkan sering kali berhenti sama sekali. Akibatnya, organisasi menjadi kuat selama tokohnya masih ada. Kemudian menjadi melemah ketika tokoh tersebut tidak lagi memimpin.

Dalam ilmu organisasi, Peter Drucker menegaskan bahwa tugas utama seorang pemimpin bukan menciptakan pengikut, melainkan menciptakan pemimpin baru. Gagasan ini menjadi semakin relevan ketika dunia berubah begitu cepat akibat revolusi digital, kecerdasan buatan, dan dinamika geopolitik global.

Tantangan yang akan dihadapi Indonesia pada masa mendatang sangat mungkin berbeda dengan tantangan hari ini. Oleh sebab itu, bangsa ini memerlukan generasi pemimpin yang tidak hanya mewarisi jabatan. Akan tetapi, juga memiliki kemampuan membaca perubahan zaman.

Pernyataan Surya Paloh, jika dimaknai secara konstruktif, seharusnya menjadi ajakan bagi seluruh elite bangsa untuk melakukan refleksi yang sama. Bukan semata-mata karena usia biologis, melainkan karena setiap pemimpin memiliki batas waktu. Tidak ada seorang pun yang dapat memimpin selamanya.

Oleh karena itu, yang seharusnya diwariskan bukanlah kekuasaan, melainkan nilai, sistem, budaya organisasi, dan manusia-manusia berkualitas yang siap melanjutkan perjuangan. Sebab, organisasi yang sibuk mewariskan jabatan kepada orang terdekat sering kali abai untuk menyiapkan kepemimpinan bagi kepentingan rakyat.

Sebab, sejarah tidak selalu mengingat pemimpin karena lamanya ia berkuasa. Sejarah lebih sering mengenang mereka karena warisan yang ditinggalkan. Ada yang dikenang karena membangun gedung-gedung megah, ada pula yang dikenang karena melahirkan institusi yang kokoh dan mampu menjaga bangsa.

Mungkin di situlah makna terdalam dari sebuah kenegarawanan. Kekuasaan bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan sampai akhir hayat. Namun, amanah yang harus dipersiapkan untuk berpindah kepada tangan yang lebih layak.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bergantung pada satu tokoh, melainkan bangsa yang terus melahirkan negarawan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika seorang pemimpin dengan rendah hati mengatakan bahwa bangsa tidak boleh lagi bergantung kepadanya, sesungguhnya ia sedang mengingatkan bahwa ukuran kebesaran seorang negarawan bukan terletak pada lamanya ia memimpin. Akan tetapi, pada keberhasilannya mempersiapkan generasi yang akan memimpin setelah dirinya.

*) Oleh: Mohamad Sinal, Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi geloranews.co.id

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi geloranews.co.id
*) rubik opini di geloranews untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.

*) Kirim tulisan anda beserta Curiculum Vitae dan pas foto ke email : mediageloranews@gmail.com. Tulisan yang layak dan berkualitas setelah melalui review oleh tim redaksi akan dipublikasikan maksimal 3 hari sejak opini dikirim.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *