Mohamad Sinal, Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, pendiri Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
Final Piala Dunia 2026 telah berakhir dengan kemenangan Spanyol atas Argentina. Gol tunggal Ferran Torres membawa Spanyol meraih gelar dunia keduanya, sekaligus menggagalkan Argentina mempertahankan trofi yang sebelumnya berada dalam genggamannya. Namun, sebagaimana kehidupan, sebuah pertandingan besar tidak hanya berbicara tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Kebanyakan orang lebih mudah mengingat skor akhir, pencetak gol, dan sosok yang mengangkat trofi. Padahal, skor hanyalah titik terakhir dari perjalanan panjang yang tidak seluruhnya terlihat oleh penonton. Trofi merupakan puncak gunung es yang berdiri di atas latihan, kegagalan, disiplin, pengorbanan, serta kerja keras selama bertahun-tahun.
Dalam pemahamannya terhadap pemikiran Aristoteles, Will Durant menegaskan bahwa manusia dibentuk oleh apa yang dilakukan secara berulang-ulang. Keunggulan bukan tindakan sesaat, melainkan kebiasaan yang terus dipelihara. Kemenangan Spanyol sesungguhnya telah dibangun jauh sebelum peluit pertama dalam pertandingan final dibunyikan.
Spanyol tidak hanya datang membawa para pemain berbakat, tetapi juga identitas permainan yang telah ditanamkan secara berkesinambungan. Sejumlah pemainnya mampu mengambil peran penting, sementara kekuatan pertahanan dan kedalaman tim memperlihatkan bekerjanya suatu sistem. Kemenangan itu lahir dari kemampuan banyak orang menjalankan tugas, bukan semata-mata dari ketergantungan kepada seorang bintang.
Di situlah sepak bola memberikan pelajaran penting tentang kehidupan. Kejayaan masa lalu dapat memberikan kebanggaan, tetapi tidak pernah menjanjikan kemenangan pada masa depan. Sejarah hanya menyediakan pijakan, sedangkan masa depan tetap harus diperjuangkan melalui pembaruan.
Argentina memasuki final dengan kehormatan sebagai juara bertahan dan membawa pengalaman dari keberhasilan sebelumnya. Akan tetapi, nama besar, sejarah panjang, dan deretan prestasi tidak dapat menentukan hasil pertandingan yang baru. Lapangan selalu meminta pembuktian hari ini, bukan sekadar cerita tentang kemenangan hari kemarin.
Pelajaran tersebut sesungguhnya melampaui batas sepak bola. Banyak organisasi mengalami kemunduran karena terlalu lama hidup dalam romantisme masa silam. Mereka terus membicarakan kebesaran yang pernah dicapai. Namun lupa menyiapkan kemampuan baru untuk menghadapi perubahan zaman.
Sebuah organisasi tidak akan bertahan hanya dengan memajang foto para pendahulu dan mengulang kisah kejayaannya. Warisan masa lalu baru memiliki arti apabila dijadikan sumber nilai untuk melahirkan gagasan, kepemimpinan, dan generasi baru. Tanpa regenerasi, sejarah yang semula membanggakan dapat berubah menjadi beban yang menghalangi pembaruan.
Spanyol memperlihatkan bahwa organisasi yang kuat dibangun oleh sistem, bukan oleh kultus terhadap individu. Pemain bintang boleh datang dan pergi, tetapi pola pembinaan, identitas permainan, disiplin, dan budaya kerja harus tetap terpelihara. Sistem yang sehat tidak takut kehilangan tokoh karena selalu mempunyai kemampuan untuk melahirkan tokoh berikutnya.
Pemikiran tersebut sejalan dengan pandangan filsuf Spanyol, Jose Ortega y Gasset, bahwa manusia selalu hidup bersama keadaan yang melingkupinya. Seseorang tidak tumbuh sendirian, sebab lingkungan, pendidikan, kebudayaan, dan institusi turut membentuk kemampuan dirinya. Tim, organisasi, ataupun bangsa akan maju apabila mampu menciptakan keadaan yang membuat setiap orang berkembang.
Sebaliknya, apabila organisasi hanya mengandalkan seorang figur, keberhasilannya akan menjadi sangat rapuh. Ketika figur itu pergi, organisasi kehilangan arah karena sistem tidak pernah dipersiapkan untuk berjalan mandiri. Kekaguman terhadap pemimpin pun berubah menjadi ketergantungan yang dapat membahayakan masa depan institusi.
Argentina, meskipun gagal mempertahankan gelar, juga meninggalkan pelajaran yang tidak kalah penting. Kehormatan tidak selalu diukur dari trofi yang berhasil dibawa pulang, sebab ada martabat yang justru terlihat ketika seseorang menghadapi kekalahan. Kemampuan menerima hasil tanpa kehilangan harga diri merupakan kemenangan batin yang sering kali lebih sulit diraih.
Marcus Aurelius mengajarkan bahwa manusia tidak selalu dapat menentukan apa yang terjadi, tetapi dapat menentukan bagaimana ia meresponsnya. Kekalahan, kegagalan, dan kekecewaan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak mungkin sepenuhnya dihindari. Yang menentukan kualitas manusia bukan hanya hasil yang diterimanya, melainkan sikap yang ditunjukkannya setelah hasil itu datang.
Dalam kehidupan bernegara, pelajaran tersebut terasa semakin relevan. Sebuah bangsa tidak cukup hanya membanggakan kejayaan peradaban, kekayaan alam, atau kebesaran para pendahulunya. Negara yang besar ialah negara yang mampu memperbarui dirinya tanpa kehilangan nilai dasar yang menjadi jati dirinya.
Kita juga perlu belajar bahwa institusi negara tidak boleh bergantung kepada satu orang. Pemimpin dapat datang dan pergi, tetapi hukum, tata kelola, akuntabilitas, dan budaya tanggung jawab harus tetap berdiri. Ketika negara terlalu bergantung pada figur, masa depannya menjadi rapuh karena pergantian kepemimpinan mudah berubah menjadi krisis kelembagaan.
Dari pertandingan sepak bola, kita memahami bahwa sebuah tim tidak akan menjadi juara hanya karena memiliki seorang pemain hebat. Kemampuan individu memang penting, tetapi kemenangan hanya lahir ketika seluruh pemain bergerak dalam sistem yang sama. Bahkan pemain paling berbakat pun tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan rekan, strategi pelatih, dan organisasi yang sehat.
Pelajaran serupa berlaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemimpin hebat tetap diperlukan, tetapi kebesaran bangsa tidak boleh berhenti pada kehebatan pemimpinnya. Tugas pemimpin yang sesungguhnya ialah membangun sistem yang tetap bekerja, bahkan ketika dirinya tidak lagi memegang kekuasaan.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa kekuatan suatu masyarakat bertumpu pada solidaritas, tata kelola, dan kemampuan menjaga keberlanjutan peradaban. Ketika semangat kebersamaan melemah, sementara kekuasaan lebih sibuk memuja individu daripada memperkuat institusi, benih kemunduran mulai tumbuh. Peradaban tidak runtuh secara tiba-tiba, tetapi perlahan kehilangan daya hidup karena merasa kejayaan masa lalu akan bertahan selamanya.
Itulah pelajaran terbesar yang dapat dipetik dari perjumpaan Spanyol dan Argentina. Kemenangan hari ini bukan jaminan bahwa seseorang akan terus menang, sebagaimana kekalahan hari ini bukan kepastian bahwa perjalanan telah berakhir. Masa depan selalu menjadi milik mereka yang bersedia belajar, memperbarui diri, membangun sistem, dan tetap menjaga kehormatan ketika keadaan tidak lagi berpihak.
Pada akhirnya, kehidupan tidak hanya bertanya berapa banyak trofi yang telah kita kumpulkan. Kehidupan juga bertanya bagaimana kemenangan itu dibangun, bagaimana kekalahan diterima, dan warisan apa yang ditinggalkan setelah kita pergi. Sebab, kemenangan sejati bukan hanya mengangkat trofi, melainkan membangun sistem yang mampu melahirkan kebaikan jauh setelah peluit terakhir dibunyikan.
*) Oleh: Mohamad Sinal, Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi geloranews.co.id
*) rubik opini di geloranews
Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.












