MALANG – Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Malang (UM) mengimplementasikan teknologi Conveyor UV Modular di CV. Bersamajaya, sebuah usaha mikro dan kecil yang bergerak di bidang jasa sablon kemasan minuman dan makanan di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Inovasi ini dikembangkan sebagai solusi atas permasalahan proses pengeringan tinta sablon cup yang selama ini masih mengandalkan metode konvensional.
Pada proses produksi sebelumnya, pengeringan tinta sablon dilakukan menggunakan rak statis, pengeringan alami, maupun blower sederhana. Metode tersebut membutuhkan waktu relatif lama, sekitar 10–30 menit, serta berpotensi menghasilkan kualitas pengeringan yang kurang konsisten. Kondisi ini menjadi tantangan bagi UMKM dalam meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga kualitas hasil cetak.

Rancangan Conveyor UV
Menjawab permasalahan tersebut, tim pengabdian UM menghadirkan Conveyor UV Modular yang memanfaatkan teknologi ultraviolet curing. Teknologi ini menggunakan paparan sinar ultraviolet untuk membantu proses pengerasan tinta sablon sehingga proses pengeringan dapat berlangsung lebih cepat dan terintegrasi dengan alur pemindahan produk menggunakan conveyor.
Mesin yang dikembangkan menggunakan motor AC berdaya 1/4 HP dengan kecepatan putaran 1.400 rpm, yang dikombinasikan dengan gearbox WPA 50. Berdasarkan hasil perhitungan teknis, sistem tersebut menghasilkan kecepatan belt conveyor sebesar 3,67 meter per menit. Hasil pengujian awal selama 10 menit menunjukkan bahwa komponen dan sistem penggerak dapat berfungsi dengan baik. Selama pengujian tidak ditemukan selip pada belt, getaran rangka relatif minimal, dan hasil curing tinta pada cup menunjukkan kondisi yang cukup baik secara visual.

Tim pengabdian melakukan setting pada conveyor UV
Selain menghadirkan mesin, kegiatan pengabdian ini juga menitikberatkan pada peningkatan kemampuan sumber daya manusia. Beberapa operator di mitra mengikuti pelatihan dan pendampingan yang mencakup pengenalan prinsip kerja UV curing, pengoperasian conveyor, pengaturan kecepatan, pemeriksaan lampu UV, perawatan rutin, penanganan gangguan sederhana, serta penerapan keselamatan kerja.
Ketua tim pengabdian, Didin Zakariya Lubis, menyampaikan bahwa penerapan teknologi tepat guna di lingkungan UMKM tidak cukup hanya dengan menyediakan mesin, tetapi juga harus disertai transfer pengetahuan dan keterampilan kepada para pekerja.
“Melalui implementasi Conveyor UV ini, kami berharap mitra tidak hanya memiliki fasilitas teknologi pengeringan yang lebih modern, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengoperasikan, merawat, dan mengendalikan kualitas proses produksi secara mandiri. Dengan demikian, teknologi yang diterapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” demikian tujuan kegiatan yang dilaksanakan bersama mitra.

Hasil curing cup pada UMKM mitra
Program ini juga mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan kapasitas dan produktivitas UMKM; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan teknologi tepat guna; serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui upaya mendorong proses produksi yang lebih efektif dan terkendali.
Ke depan, penerapan Conveyor UV diharapkan dapat menjadi salah satu model transfer teknologi manufaktur yang dapat direplikasi pada UMKM sejenis. Pengembangan lebih lanjut juga diperlukan melalui pengujian kuantitatif terhadap kualitas hasil curing, kapasitas produksi, dan efisiensi waktu untuk mengetahui dampak teknologi secara lebih terukur.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini didukung melalui pendanaan internal Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang, Skema Pengabdian kepada Masyarakat Lingkungan Kampus Tahun Anggaran 2026, Tim pengabdian menyampaikan terima kasih kepada Universitas Negeri Malang, LPPM, CV. Bersamajaya, serta seluruh pekerja yang telah berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan ini.
