Malang – Senin, 20 Juli 2026
Berjalan kaki sambil mendengarkan musik, podcast, atau sekadar membuka media sosial melalui ponsel sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Namun belakangan, muncul tren baru yang dikenal dengan silent walking, yaitu berjalan kaki tanpa menggunakan earphone maupun mendengarkan audio apa pun. Aktivitas ini mengajak seseorang untuk menikmati perjalanan dalam keadaan hening, tanpa distraksi dari perangkat digital.
Tren silent walking mulai ramai dibagikan di berbagai media sosial melalui unggahan video maupun pengalaman pribadi. Banyak warganet mengaku sengaja meninggalkan earphone saat berjalan agar dapat lebih fokus pada lingkungan sekitar dan memberi waktu bagi pikiran untuk beristirahat dari derasnya arus informasi digital.
Berbeda dengan jalan kaki pada umumnya yang sering dijadikan kesempatan untuk mendengarkan lagu atau mengikuti podcast, silent walking justru mengedepankan kesadaran penuh terhadap apa yang terjadi di sekitar. Suara langkah kaki, hembusan angin, suara kendaraan, hingga kicauan burung menjadi bagian dari pengalaman yang dinikmati selama berjalan.
Mahasiswi Universitas Brawijaya, Farel (21), mengaku mulai mencoba silent walking beberapa bulan terakhir. Ia biasanya berjalan kaki di sekitar lingkungan kampus maupun taman pada pagi atau sore hari ketika suasana tidak terlalu ramai.
“Awalnya terasa aneh karena biasanya saya selalu memakai earphone. Tapi setelah beberapa kali mencoba, saya jadi lebih menikmati suasana sekitar dan merasa pikiran lebih tenang,” ujar Farel, Senin (20/7/2026).
Menurut Farel, kebiasaan tersebut membuatnya lebih sadar terhadap hal-hal kecil yang sebelumnya sering terlewatkan. Saat tidak disibukkan dengan musik atau notifikasi ponsel, ia merasa lebih mudah memperhatikan perubahan suasana di sekitar, mulai dari aktivitas masyarakat, kondisi cuaca, hingga suara alam yang selama ini jarang disadari.
Ia juga mengaku silent walking menjadi waktu untuk sejenak melepaskan diri dari kebiasaan menatap layar gawai hampir sepanjang hari. Baginya, berjalan tanpa distraksi memberikan ruang bagi pikiran untuk lebih rileks setelah menjalani aktivitas kuliah yang cukup padat.
“Saya jadi lebih menikmati momen berjalan itu sendiri. Rasanya seperti memberi jeda dari semua notifikasi dan informasi yang setiap hari terus masuk ke ponsel,” katanya.
Fenomena ini turut mencerminkan meningkatnya kesadaran sebagian anak muda terhadap pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan waktu untuk diri sendiri. Di tengah rutinitas yang padat, banyak orang mulai mencari kegiatan sederhana yang tidak memerlukan biaya besar, tetapi tetap dapat memberikan rasa nyaman dan membantu mengurangi penat.

Selain mudah dilakukan, silent walking juga tidak membutuhkan perlengkapan khusus. Seseorang cukup meluangkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit untuk berjalan santai di lingkungan rumah, area kampus, taman kota, atau ruang terbuka lainnya yang aman dan nyaman. Waktu pagi maupun sore hari kerap menjadi pilihan karena udara terasa lebih sejuk dan suasana relatif lebih tenang.
Meski demikian, aktivitas ini tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan faktor keselamatan. Pejalan kaki dianjurkan memilih jalur yang ramah bagi pejalan kaki, mematuhi rambu lalu lintas, serta tetap waspada terhadap kondisi jalan dan kendaraan di sekitar. Fokus menikmati suasana bukan berarti mengabaikan keamanan selama berjalan.
Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi notifikasi, media sosial, dan tuntutan untuk selalu terhubung dengan dunia digital, silent walking menjadi alternatif sederhana untuk memberi waktu istirahat bagi pikiran. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan hidup tidak selalu membutuhkan cara yang rumit atau mahal. Terkadang, melangkah kaki selama beberapa menit tanpa distraksi sudah cukup untuk membantu seseorang menikmati momen, mengembalikan fokus, dan merasa lebih tenang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.












