Malang – Kekayaan hayati hutan tropis Indonesia kembali mengejutkan dunia sains. Tim peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim internasional berhasil mengidentifikasi spesies baru katak miniatur berukuran mikro di pedalaman hutan hujan tropis Sumatra.
Katak genus Microhyla yang baru ditemukan ini dinobatkan sebagai salah satu katak terkecil di belahan bumi selatan. Bayangkan saja, ukuran tubuh katak jantan dewasa yang ditemukan ini rata-rata hanya berkisar antara 10 hingga 11 milimeter, alias tidak lebih besar dari sebutir kuku jari manis orang dewasa.
Penemuan spesies baru ini menjadi bukti kuat bahwa wilayah hutan Sumatra masih menyimpan banyak misteri keanekaragaman hayati yang belum terpetakan sepenuhnya. Katak miniatur ini hidup di antara tumpukan serasah daun kering yang basah di lantai hutan. Dengan ukurannya yang sangat mikro dan warnanya yang menyerupai daun kering, spesies ini sangat sulit dideteksi dengan mata telanjang jika tidak sedang bersuara.

Menggunakan Analisis DNA Genetik
Penemuan ini berawal dari eksplorasi lapangan yang dilakukan tim peneliti sejak akhir tahun lalu. Untuk memastikan bahwa katak mikro ini benar-benar spesies baru dan bukan sekadar berudu atau anakan dari katak besar, tim ilmuwan membawa sampel tersebut ke laboratorium untuk diuji secara molekuler.
Secara fisik, katak baru ini memiliki corak garis kecokelatan yang unik di punggungnya serta struktur bantalan jari yang berbeda, yang memungkinkannya memanjat serasah daun atau vegetasi rendah dengan lincah untuk berburu serangga mikro seperti semut lantai hutan.
Terancam Kehilangan Habitat asli
Meskipun baru saja ditemukan oleh dunia sains, eksistensi katak mini ini langsung dihadapkan pada ancaman nyata berupa degradasi lingkungan akibat alih fungsi lahan hutan. Satwa dengan ukuran tubuh miniatur seperti ini umumnya memiliki tingkat endemisitas yang sangat tinggi dan ruang jelajah yang sangat terbatas. Artinya, mereka sangat rentan terhadap perubahan iklim mikro sekecil apa pun di habitatnya. Katak berukuran mikro sangat bergantung pada kelembapan area serasah hutan. Ketika kanopi hutan dibuka atau terjadi pembalakan, suhu lantai hutan akan naik, kelembapan turun, dan itu bisa memicu kepunahan populasi mereka dalam waktu singkat. Penemuan ini bukan sekadar menambah daftar panjang spesies satwa di Indonesia. Ini adalah alarm bagi kita semua bahwa setiap jengkal hutan tropis yang hilang, ada kemungkinan kita juga kehilangan rantai penting sains dan potensi obat-obatan masa depan yang belum sempat digali.












