Malang – Pemerintah Kota Malang memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan persoalan distribusi masih perlu mendapat perhatian. Antrean di sejumlah SPBU hingga ketersediaan Pertalite yang sempat kosong menjadi catatan terhadap pelayanan BBM bagi masyarakat.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang bersama Wali Kota Malang Wahyu Hidayat melakukan inspeksi di SPBU Ciliwung pada Selasa (8/9/2026). Dalam pemantauan tersebut, Pemkot Malang menyatakan stok BBM masih tersedia dan penyaluran tetap berjalan.
Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan situasi yang dialami masyarakat di lapangan. Meningkatnya permintaan Pertalite terjadi setelah sebagian masyarakat beralih dari Pertamax menyusul penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Aktivitas masyarakat yang meningkat, termasuk masuknya mahasiswa baru, turut mendorong konsumsi BBM.
Data Pertamina menunjukkan konsumsi Pertalite di Malang Raya meningkat sekitar 6 hingga 10 persen. Sementara konsumsi Solar naik sekitar 10 hingga 15 persen. Untuk mengantisipasi kenaikan permintaan, pasokan Pertalite ditambah dari sekitar 700 kiloliter menjadi 888 kiloliter per hari. Pasokan Solar juga dinaikkan dari sekitar 280–300 kiloliter menjadi sekitar 360 kiloliter per hari.
Kondisi ini menjadi catatan bagi Pemkot Malang. Pernyataan mengenai stok yang aman perlu dibarengi dengan pemantauan terhadap ketersediaan BBM di tingkat SPBU, sehingga masyarakat tidak justru kesulitan memperoleh BBM ketika permintaan meningkat.
Aktivis Ketua Bidang Anti Korupsi GERRINDO Kota Malang, Farel, menilai kondisi di lapangan perlu menjadi perhatian Pemkot Malang.
“Nyatanya, stok BBM Pertalite sempat habis dan hanya tersedia Pertamax. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar stok secara keseluruhan aman, tetapi apakah BBM yang dibutuhkan masyarakat benar-benar tersedia di SPBU,” ujar Farel.
Menurutnya, Pemkot Malang perlu memperkuat pemantauan dan koordinasi dengan Pertamina, terutama ketika terjadi peningkatan konsumsi. Penambahan pasokan juga perlu dipastikan benar-benar sampai pada titik yang mengalami lonjakan permintaan agar masyarakat tidak menghadapi antrean maupun kesulitan mendapatkan BBM yang sesuai kebutuhannya.
Dengan konsumsi Pertalite yang meningkat dan adanya pergeseran masyarakat dari BBM nonsubsidi, Pemkot Malang dinilai perlu melakukan antisipasi yang lebih konkret. Persoalan BBM tidak cukup hanya dilihat dari jumlah pasokan secara keseluruhan, tetapi juga dari ketersediaan di SPBU dan kelancaran masyarakat dalam memperoleh BBM.
