GELORANEWS — Kebakaran hutan dan lahan kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di tengah musim kemarau yang cukup panjang, kondisi panas dan kering membuat rumput, semak hingga dedaunan kehilangan kelembapan dan berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Dalam kondisi seperti ini, api kecil bukan lagi persoalan sepele. Satu bara yang ditinggalkan, percikan api, atau aktivitas pembakaran di lahan terbuka dapat menjadi awal dari kobaran yang lebih besar ketika bertemu vegetasi kering dan hembusan angin.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan September 2026 masih menjadi periode yang perlu diwaspadai karena sebagian wilayah Indonesia berada dalam kondisi kemarau dan risiko kebakaran masih tinggi.
“September ini masih menjadi fase kritis yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama,” kata Faisal dalam keterangan resmi BMKG, 7 September 2026.
Fenomena El Niño turut menjadi perhatian karena dapat memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah. Ketika hujan berkurang dan kelembapan tanah menurun, vegetasi menjadi lebih mudah kehilangan air sehingga lebih cepat terbakar ketika terkena sumber panas.
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo, menjelaskan karakteristik lahan juga menentukan bagaimana api bertahan dan menyebar. Terutama pada lahan gambut, api dapat bertahan di bawah permukaan meski kobaran di atas tanah terlihat telah padam.
“Sulitnya pemadaman karhutla di Kalimantan berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan,” ujar Bambang pada 26 Agustus 2026.
Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran membutuhkan kewaspadaan lebih. Petugas tidak hanya harus memadamkan api yang terlihat, tetapi juga memastikan bara yang berada di dalam tanah benar-benar tidak lagi menyala.
Namun, panas dan kemarau tidak dapat serta-merta disebut sebagai penyebab munculnya setiap kebakaran. Kondisi cuaca lebih tepat disebut sebagai faktor yang meningkatkan kerentanan suatu wilayah terhadap api.
Sementara sumber api tetap harus dicari dan dibuktikan melalui pemeriksaan di lapangan. Aktivitas manusia, termasuk pembakaran lahan yang tidak terkendali, dapat menjadi salah satu pemicu ketika kondisi lingkungan sedang sangat kering.
Gambaran sederhananya, kemarau membuat alam menjadi lebih mudah terbakar. Sumber api kemudian menjadi pemantik, sementara angin dapat mempercepat penjalaran kobaran.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menyalakan api sembarangan, khususnya di kawasan hutan, perkebunan, lahan terbuka maupun daerah yang dipenuhi rumput dan semak kering.
Kebakaran besar tidak selalu bermula dari kobaran yang besar. Dalam kondisi yang tepat, api yang awalnya kecil dapat menjalar dari satu vegetasi kering ke vegetasi lainnya dan berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.
Memasuki pertengahan September 2026, kewaspadaan menjadi semakin penting. Pencegahan sejak dini, pemantauan titik panas, patroli kawasan rawan dan respons cepat terhadap laporan kebakaran menjadi kunci untuk mencegah api meluas.
GeloraNews
14 September 2026
