Malang – Tren personal color analysis semakin diminati oleh kalangan anak muda, khususnya mahasiswa. Tak sekadar mengikuti tren di media sosial, banyak yang mulai mencoba analisis warna untuk mengetahui warna pakaian, hijab, hingga riasan yang dinilai paling sesuai dengan karakter diri.
Popularitas personal color analysis meningkat seiring maraknya konten di TikTok dan Instagram yang menampilkan proses analisis hingga hasil transformasi penampilan seseorang setelah mengetahui kelompok warnanya. Tren ini pun menarik perhatian anak muda yang ingin tampil lebih percaya diri tanpa harus selalu mengikuti warna yang sedang populer.
Personal color analysis merupakan metode untuk mengidentifikasi kelompok warna yang paling selaras dengan karakter alami seseorang, seperti warna kulit, rambut, dan mata. Dari proses tersebut, seseorang umumnya akan dikelompokkan ke dalam empat kategori musim, yakni Spring, Summer, Autumn, dan Winter.
Kelompok Spring identik dengan warna-warna hangat dan cerah seperti peach, coral, dan krem. Summer didominasi warna lembut bernuansa dingin seperti dusty pink, lavender, dan biru muda. Sementara Autumn memiliki karakter warna yang hangat dan lebih pekat, seperti cokelat, olive, mustard, serta terracotta. Adapun Winter identik dengan warna-warna yang tegas dan kontras, seperti hitam, putih, merah terang, hingga biru tua.
Hasil analisis tersebut kemudian dijadikan acuan dalam memilih warna pakaian, hijab, riasan, aksesori, bahkan warna rambut agar penampilan terlihat lebih harmonis dengan karakter wajah.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fauzia, mengaku mengenal personal color analysis dari media sosial. Awalnya ia hanya penasaran karena tren tersebut sering muncul di beranda TikTok miliknya.
“Awalnya cuma penasaran karena sering lewat di FYP TikTok. Setelah cari tahu kategori warnaku, ternyata aku jadi lebih paham warna apa yang bikin wajah kelihatan lebih cerah,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Menurut Fauzia, mengetahui kelompok warna yang sesuai membuatnya lebih mudah saat memilih pakaian maupun hijab. Ia juga mengaku kini lebih selektif ketika berbelanja.

“Sekarang kalau beli baju aku lebih mempertimbangkan warnanya. Jadi nggak cuma karena lagi tren, tapi memang sesuai sama warna kulitku. Rasanya juga jadi lebih percaya diri saat dipakai,” katanya.
Hal serupa dirasakan oleh mahasiswa lainnya, Nabila Putri. Ia menilai personal color analysis membantunya menentukan warna riasan dan pakaian yang sesuai untuk kegiatan sehari-hari maupun acara kampus.
“Biasanya aku bingung pilih warna lipstik atau baju. Setelah tahu personal color, jadi lebih gampang menentukan pilihan karena sudah ada acuan warna yang cocok,” ungkapnya.
Meski demikian, Nabila menilai tren tersebut tidak harus dijadikan aturan mutlak dalam berpenampilan.
“Menurutku ini lebih ke panduan saja. Kalau kita suka warna tertentu, ya tetap boleh dipakai. Yang paling penting tetap nyaman dan percaya diri dengan apa yang kita kenakan,” tuturnya.
Bagi sebagian anak muda, personal color analysis bukan hanya tentang mengikuti tren, tetapi juga menjadi cara mengenal karakter diri melalui pilihan warna. Dengan mengetahui palet warna yang sesuai, mereka merasa lebih mudah menentukan gaya berpakaian sekaligus lebih bijak dalam memilih produk fashion maupun kecantikan.












