Oleh : Taufan Hariono S.Kom, Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang
Di balik hiruk-pikuk bongkar muat peti kemas, ada raksasa besi yang bekerja tanpa henti: RTG crane (Rubber Tyred Gantry crane, alat pengangkat peti kemas beroda karet). Selama puluhan tahun, alat ini mengandalkan solar sebagai bahan bakar. Tapi tren mulai bergeser. Satu per satu pelabuhan di Indonesia beralih ke tenaga listrik.
Perubahan ini bukan sekadar ganti sumber energi. Di baliknya ada hitung-hitungan ekonomi dan dampak lingkungan yang layak diketahui masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar kawasan pelabuhan.
Kenapa Harus Beralih ke Listrik?
Alasan utamanya sederhana: biaya bahan bakar solar terus naik, sementara listrik relatif lebih stabil dan lebih murah dalam jangka panjang. Satu unit RTG yang beroperasi nonstop setiap hari menghabiskan solar dalam jumlah besar. Kalau dikalikan puluhan unit dalam satu pelabuhan, biayanya jadi angka yang tidak kecil.
Sebagai gambaran, salah satu operator pelabuhan besar di Indonesia pernah mengumumkan rencana investasi sekitar ratusan miliar untuk mengonversi puluhan unit RTG dari solar ke listrik. Angka ini terdengar besar, tapi hitungannya bukan cuma soal harga alat. Ada penghematan biaya bahan bakar dan perawatan yang, dalam jangka panjang, justru menutup biaya investasi awal.
Dampak Positif bagi Lingkungan
Selain soal biaya, konversi energi ini berdampak langsung ke kualitas udara di sekitar pelabuhan. Mesin diesel menghasilkan asap dan suara bising yang mengganggu, baik untuk pekerja maupun warga sekitar. RTG listrik jauh lebih senyap dan tidak mengeluarkan emisi gas buang saat beroperasi.
Sebagai gambaran skala dampaknya, riset di salah satu pelabuhan besar dunia menemukan bahwa sekitar separuh energi yang dipakai RTG sebenarnya bisa dipulihkan (recoverable, bisa didaur ulang kembali menjadi energi), dan penghematan ini setara dengan puluhan ribu liter bahan bakar serta ribuan ton emisi karbon per tahun. Angka ini menunjukkan betapa besar potensi pengurangan polusi kalau konversi energi diterapkan secara luas.
Buat pelabuhan, ini bukan cuma soal citra ramah lingkungan. Semakin banyak negara dan pelabuhan besar dunia menerapkan standar emisi yang lebih ketat. Pelabuhan yang lebih dulu beralih ke energi bersih akan lebih siap menghadapi aturan-aturan baru ini, dan berpeluang menyandang status green port (pelabuhan ramah lingkungan).
Tidak Semudah Membalikkan Telapak Tangan
Meski menjanjikan, konversi energi ini bukan proses instan. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi:
Pertama, kebutuhan infrastruktur baru, seperti pembangunan gardu listrik dan jalur kabel, yang butuh biaya dan waktu tidak sedikit.
Kedua, masa transisi operasional, karena selama proses konversi berlangsung, sebagian alat mungkin harus berhenti beroperasi sementara, yang bisa memengaruhi kecepatan bongkar muat.
Ketiga, kebutuhan tenaga kerja terlatih, sebab teknisi yang biasa menangani mesin diesel perlu belajar ulang sistem kelistrikan yang berbeda.
Kenapa Ini Penting Buat Semua Orang?
Pelabuhan adalah simpul penting rantai pasok (supply chain, jalur pengiriman barang dari produsen ke konsumen) di Indonesia. Efisiensi biaya operasional pelabuhan, termasuk soal energi, pada akhirnya ikut memengaruhi harga barang yang sampai ke tangan konsumen. Pelabuhan yang lebih efisien dan ramah lingkungan juga berarti kualitas udara yang lebih baik untuk warga sekitar, dan reputasi yang lebih kuat di mata mitra dagang internasional.
Tahukah Anda?
Selain listrik, beberapa pelabuhan di dunia mulai mencoba sistem hibrida (hybrid, gabungan dua sumber energi), yaitu menggabungkan mesin diesel berukuran kecil dengan baterai berkapasitas tinggi. Cara ini terbukti mampu memangkas konsumsi solar dan emisi karbon hingga hampir separuhnya, tanpa harus membangun infrastruktur listrik baru secara menyeluruh.
*) Oleh : Taufan Hariono S.Kom, Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi geloranews.co.id
*) rubik opini di geloranews untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Kirim tulisan anda beserta Curiculum Vitae dan pas foto ke email : mediageloranews@gmail.com. Tulisan yang layak dan berkualitas setelah melalui review oleh tim redaksi akan dipublikasikan maksimal 3 hari sejak opini dikirim.
