MALANG — Masalah tumpukan sampah yang meluber hingga ke bahu Jalan Muharto, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, kembali menjadi sorotan tajam netizen di media sosial. Kondisi yang mengganggu estetika dan menimbulkan bau menyengat ini memicu kritik keras dari warga sekitar yang menuntut solusi permanen dari pemerintah daerah.
Melubernya sampah ke jalan raya tersebut diketahui terjadi akibat ketiadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) resmi yang berfungsi secara permanen di kawasan padat penduduk tersebut. Warga yang tidak memiliki pilihan tempat pembuangan akhirnya terpaksa membuang sampah rumah tangga mereka di pinggir jalan..
Kondisi di Jalan Muharto ini memang menjadi perhatian serius. Akar masalahnya adalah belum memiliki lahan yang representatif untuk membangun TPS permanen di sana, mengingat kawasan tersebut sudah sangat padat pemukiman
Cari Lahan Pengganti dan Evaluasi TPS Liar
Sebagai langkah darurat, DLH Kota Malang menempatkan bak kontainer sampah portabel di sekitar lokasi untuk mencegah warga membuang sampah langsung ke aspal jalan. Namun, kapasitas kontainer tersebut kerap tidak mampu menampung volume sampah harian yang tinggi.
DLH sedang gencar melakukan survei lapangan untuk mencari lahan pengganti yang asetnya dimiliki oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang agar bisa dialihfungsikan menjadi TPS resmi yang aman bagi pemukiman.

Siapkan Skema Jemput Sampah Langsung
Sembari menunggu kepastian lahan penampungan yang baru, DLH Kota Malang tengah mematangkan skema alternatif berupa layanan jemput sampah langsung ke rumah-rumah warga (door-to-door).
Skema ini nantinya akan mengoptimalkan peran swadaya masyarakat melalui gerobak sampah rukun tetangga (RT) atau rukun warga (RW). Sampah yang dikumpulkan dari rumah warga akan langsung dialihkan ke truk jungkit (dump truck) milik DLH yang bersiaga pada jam-jam tertentu.
Pihak DLH mengimbau masyarakat untuk sementara waktu menjaga ketertiban pembuangan dengan memasukkan sampah ke dalam kantong plastik yang terikat rapi sebelum ditaruh di bak kontainer sementara. Partisipasi warga dinilai sangat krusial dalam menjaga kebersihan fasilitas publik selama masa transisi penataan ini.












