MALANG — Jagat media sosial baru-baru ini diaramaikan oleh gelombang keluhan dari masyarakat Kota Malang terkait penyelenggaraan sebuah acara yang menggunakan sistem pengerasan suara raksasa atau dikenal sebagai sound horeg .
Pantauan di berbagai platform digital menampilkan topik ‘Malang’ dan ‘Kota Malang’ sempat masuk dalam jajaran tren pembahasan hangat. Hal ini dipicu oleh viralnya sejumlah thread (utas) yang dibuat oleh warga setempat yang merasa sangat terganggu dengan intensitas suara dari acara tersebut.
Dalam berbagai unggahan yang viral, warga mengeluhkan bahwa suara musik bertenaga tinggi dari sound horeg tersebut terus berdentum keras hingga dini hari. Banyak netizen yang mengeluhkan waktu istirahat mereka yang terganggu, kenyamanan balita dan lansia, hingga getaran kaca rumah yang dirasa akibat efek suara bass yang berlebihan.

“Sangat mengganggu, terutama karena mainnya sampai dini hari di kawasan padat penduduk. Tolong pihak terkait lebih tegas soal perizinan jam malam,” tulis salah satu warga dalam utasnya yang mendapat ribuan respons dari sesama pengguna jalan maupun warga sekitar lokasi.
Hingga berita ini diturunkan, unggahan-unggahan seputar keluhan tersebut masih terus bergulir dan memicu di kalangan netizen mengenai regulasi dan batasan penggunaan sound horeg di wilayah perkotaan.












