Probolinggo – Gunung Bromo kembali menjadi magnet wisatawan memasuki musim kemarau. Langit yang cenderung cerah membuat panorama matahari terbit (sunrise) dan hamparan lautan kabut di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terlihat lebih jelas dibandingkan saat musim hujan.
Sejak Juni hingga Agustus, kawasan Bromo dikenal sebagai salah satu destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam di pagi hari. Sejumlah titik pandang, seperti Penanjakan, Bukit Kingkong, dan Bukit Cinta, dipadati pengunjung yang datang sejak dini hari untuk menyaksikan matahari terbit.
Selain sunrise, hamparan lautan pasir, Bukit Teletubbies yang mulai menghijau, serta siluet Gunung Batok dan Gunung Semeru menjadi daya tarik yang membuat banyak wisatawan rela menempuh perjalanan jauh.
Salah seorang wisatawan asal Tidore, Aliyah (21), mengaku sengaja memilih berkunjung pada musim kemarau karena ingin menikmati panorama Bromo secara maksimal.
“Saya berangkat sekitar pukul 01.00 WIB supaya bisa sampai sebelum matahari terbit. Untung cuacanya cerah, jadi pemandangannya benar-benar bagus. Lautan kabutnya juga masih terlihat dan sunrise-nya sangat jelas. Menurut saya, ini waktu terbaik untuk datang ke Bromo,” ujar Aliyah saat ditemui di kawasan Penanjakan, Jumat (26/6/2026).
Meski demikian, wisatawan diimbau mempersiapkan perlengkapan yang memadai. Suhu udara di kawasan Bromo pada dini hari dapat mencapai sekitar 5 hingga 10 derajat Celsius, sehingga jaket tebal, penutup kepala, dan sarung tangan menjadi perlengkapan yang disarankan untuk dibawa.
Pengunjung juga diminta menjaga kebersihan kawasan wisata dengan tidak membuang sampah sembarangan serta mematuhi aturan yang berlaku selama berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Dengan kondisi cuaca yang lebih bersahabat dan panorama alam yang tengah berada dalam kondisi terbaik, musim kemarau menjadi momen yang paling banyak dimanfaatkan wisatawan untuk menikmati pesona Gunung Bromo.











