KABUPATEN MALANG – Anemia masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu hamil di Kabupaten Malang. Setiap tahun, ribuan ibu hamil tercatat mengalami kondisi kekurangan hemoglobin (Hb) dalam darah tersebut. Tingginya kasus ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dalam memastikan kesehatan ibu dan calon bayi selama masa kehamilan.
Dampak anemia pada ibu hamil tidak bisa dianggap sepele. Selain meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada ibu, kondisi tersebut juga dapat menghambat pertumbuhan janin, meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah hingga kelahiran prematur.
Banyaknya ibu hamil yang mengalami anemia juga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas upaya pencegahan yang selama ini dilakukan pemerintah daerah. Sebab, persoalan ini tidak cukup ditangani melalui pemeriksaan kesehatan ketika ibu sudah dinyatakan mengalami anemia.
Pemkab Malang perlu memperkuat upaya pencegahan sejak dini, mulai dari edukasi pemenuhan gizi, pemeriksaan kadar hemoglobin secara berkala, hingga memastikan distribusi dan konsumsi tablet tambah darah (TTD) bagi ibu hamil berjalan optimal.
Selain itu, pendampingan terhadap ibu hamil juga perlu menjadi perhatian. Terlebih, tidak semua ibu memiliki pemahaman yang cukup mengenai kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Akses terhadap layanan kesehatan dan pemenuhan gizi yang memadai turut menentukan keberhasilan pencegahan anemia.
Jika penanganannya hanya berfokus pada pengobatan setelah anemia terdeteksi, persoalan serupa berpotensi terus berulang setiap tahunnya. Karena itu, Pemkab Malang perlu memastikan program kesehatan ibu dan anak tidak sekadar berjalan secara administratif, tetapi benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan.
Upaya menekan angka anemia pada ibu hamil semestinya menjadi salah satu indikator keseriusan pemerintah daerah dalam melindungi kesehatan ibu dan anak. Sebab, ancaman anemia bukan hanya persoalan kesehatan individu, melainkan juga menyangkut kualitas generasi yang akan dilahirkan.
