BANTEN – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami rangkaian erupsi dalam beberapa hari terakhir. Hingga Jumat, 11 September 2026, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Di tengah aktivitas vulkanik tersebut, operasi pencarian terhadap delapan orang yang hilang saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Delapan orang itu terdiri dari lima jurnalis, seorang kapten kapal, seorang anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu.
Kelima jurnalis yang dilaporkan hilang yakni M Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas. Sementara tiga orang lainnya adalah Warta sebagai kapten kapal, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Rombongan tersebut berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedogan, Carita, Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Komunikasi terakhir dengan rombongan tercatat sekitar pukul 14.42 WIB. Setelah itu, keberadaan mereka tidak diketahui dan operasi pencarian kemudian dilakukan oleh tim SAR gabungan.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan operasi pencarian terus diperluas. Pada Kamis, 10 September 2026, Basarnas mengerahkan 11 kapal dengan melibatkan lebih dari 300 personel untuk menyisir sejumlah sektor di perairan Selat Sunda.
“Hari ini kita kembangkan sampai di enam sektor dengan 11 kekuatan kapal, mulai dari KRI, TNI Angkatan Laut, juga kapal dari kepolisian, kapal-kapal yang dimiliki Basarnas maupun potensi di wilayah,” kata Syafii, Kamis (10/9/2026).
Perkembangan terbaru pada Jumat (11/9/2026), tim SAR belum menemukan tanda keberadaan lima jurnalis tersebut di Pulau Sertung. Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan wilayah tersebut belum dapat dimasuki secara langsung karena berada dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau dan masih dinilai sebagai kawasan rawan.
“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km ya, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan,” ujar Al Amrad.
Tim SAR juga menggunakan drone untuk membantu pencarian. Namun, upaya pemantauan di sejumlah wilayah masih menghadapi kendala karena kondisi asap dan cuaca. Penyisiran kemudian terus diperluas dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, arus laut serta keselamatan personel.
Dalam perkembangan lain, personel TNI Angkatan Laut menemukan sebuah pelampung saat melakukan pencarian di Perairan Cikoneng-Labuan, Banten, Kamis (10/9/2026). Namun, hingga laporan terbaru, TNI AL masih menunggu proses identifikasi dari Basarnas dan belum ada kepastian bahwa pelampung tersebut berkaitan dengan rombongan yang hilang.
Sementara itu, Badan Geologi melalui PVMBG melaporkan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau. Dalam evaluasi hingga 10 September 2026 pukul 06.00 WIB, tercatat satu kali gempa erupsi, enam kali gempa hembusan, tiga kali gempa low frequency, lima kali gempa hybrid/fase banyak, tremor menerus, satu kali gempa vulkanik dangkal-dalam, serta tiga gempa tektonik jauh.
Badan Geologi menyebut aktivitas vulkanik Anak Krakatau menunjukkan kecenderungan menurun setelah episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam yang berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Meski demikian, probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih dinilai tinggi.
Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan diminta mematuhi rekomendasi PVMBG untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Warga di wilayah terdampak abu vulkanik juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker guna menghindari gangguan akibat paparan abu.
Hingga Jumat, 11 September 2026, belum ada konfirmasi resmi mengenai korban meninggal dunia dalam insiden hilangnya rombongan tersebut. Delapan orang masih dinyatakan hilang dan menjadi sasaran pencarian tim SAR gabungan.
GeloraNews | Jumat, 11 September 2026
