GeloraNews, 19 Oktober 2026 — Perkembangan teknologi kendaraan listrik di Indonesia semakin pesat. Kendaraan berbasis baterai kini bukan lagi sekadar alternatif, tetapi mulai menjadi penantang kendaraan bermesin pembakaran internal yang selama ini mendominasi pasar roda dua dan roda empat.
Salah satu perkembangan yang menjadi sorotan adalah teknologi baterai dan pengisian daya ultra cepat. Inovasi tersebut dinilai dapat menjawab salah satu kekhawatiran masyarakat terhadap kendaraan listrik, yakni lamanya waktu pengisian baterai.
Terbaru, teknologi Blade Battery generasi kedua dan FLASH Charging diperkenalkan BYD di Indonesia pada Oktober 2026. Teknologi tersebut diklaim mampu mengisi baterai kendaraan dari 10 persen hingga 70 persen dalam sekitar lima menit dan mencapai 97 persen dalam sekitar sembilan menit dalam kondisi tertentu.
Teknologi FLASH Charging tersebut memiliki kemampuan pengisian hingga 1.500 kW melalui satu konektor. BYD juga menyatakan teknologi ini akan mulai diimplementasikan di sejumlah dealer DENZA di Indonesia sepanjang 2026.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari persaingan teknologi otomotif yang semakin ketat. Produsen kendaraan tidak hanya berlomba menghadirkan desain dan performa, tetapi juga mengembangkan baterai dengan daya jelajah lebih jauh, sistem pengisian lebih cepat, serta fitur keselamatan dan kecerdasan kendaraan.
Di sektor roda dua, perkembangan kendaraan listrik juga terus menunjukkan peningkatan. Kementerian Perindustrian mencatat populasi sepeda motor listrik di Indonesia telah mencapai sekitar 280 ribu unit hingga Agustus 2026.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, menyebut pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari regulasi pemerintah dan perkembangan ekosistem kendaraan listrik.
“Jika dibandingkan capaian tahun lalu, posisi pertumbuhan kita tahun ini sudah cukup naik signifikan dan angka ini dipastikan akan terus bertambah mengingat tahun 2026 masih berjalan,” kata Setia, seperti dikutip dari pemberitaan detikOto pada 24 September 2026.
Tidak hanya sepeda motor, kendaraan listrik roda empat juga terus memperbesar penetrasinya. Kemenperin mencatat penetrasi kendaraan roda empat listrik secara akumulatif telah mencapai 16,8 persen hingga Agustus 2026.
Salah satu tantangan terbesar kendaraan listrik selama ini adalah infrastruktur pengisian. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya menyoroti tiga persoalan utama, yakni keterbatasan infrastruktur pengisian, biaya baterai yang masih tinggi, serta kekhawatiran pengguna terhadap jarak tempuh atau range anxiety.
Karena itu, inovasi tidak hanya dilakukan pada kendaraan, tetapi juga pada sistem pengisian baterai. Untuk kendaraan roda dua, teknologi battery swap atau penukaran baterai menjadi salah satu solusi yang berkembang. Pengguna tidak perlu menunggu baterai terisi penuh karena baterai yang habis dapat diganti dengan baterai yang sudah terisi.
Sementara untuk kendaraan roda empat, pengembangan fast charging dan ultrafast charging menjadi salah satu fokus industri. Kehadiran teknologi pengisian berdaya tinggi berpotensi memangkas waktu tunggu sehingga pengalaman menggunakan mobil listrik semakin mendekati kepraktisan kendaraan berbahan bakar minyak.
Di sisi lain, pemerintah juga terus membangun ekosistem kendaraan listrik, termasuk infrastruktur pengisian. Kementerian ESDM telah mengatur layanan pengisian listrik melalui SPKLU, termasuk fast charging dan ultrafast charging, sebagai bagian dari percepatan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Perkembangan industri juga terlihat dari sisi hulu. Pada 8 Oktober 2026, Indonesia mencatat ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara. Pemerintah menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari agenda hilirisasi industri baterai dan kendaraan listrik nasional.
Dengan perkembangan tersebut, persaingan kendaraan listrik dan kendaraan konvensional diperkirakan semakin terbuka. Kendaraan listrik menawarkan keunggulan dari sisi efisiensi energi, teknologi digital, dan perkembangan sistem pengisian, sedangkan kendaraan konvensional masih memiliki keunggulan berupa jaringan pengisian BBM yang luas dan kebiasaan penggunaan yang sudah terbentuk.
Artinya, kendaraan listrik belum serta-merta menggantikan sepeda motor maupun mobil konvensional. Namun, perkembangan baterai, pengisian cepat, sistem penukaran baterai, serta peningkatan infrastruktur membuat kendaraan listrik semakin kompetitif di pasar Indonesia.
Ke depan, kemampuan produsen menghadirkan kendaraan yang terjangkau, aman, memiliki jarak tempuh memadai, serta didukung infrastruktur pengisian yang luas akan menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa cepat kendaraan listrik mengambil porsi pasar kendaraan konvensional.
GeloraNews
19 Oktober 2026
