Pameran ilmiah yang berlangsung di Malang ini menampilkan riset-riset berbasis teknologi digital, kecerdasan buatan, hingga solusi lingkungan terintegrasi. Seluruh karya yang dipajang murni merupakan hasil pengembangan orisinal dari para inovator muda bangku perkuliahan.
Direktur Binus Malang, Dr. Robertus Tang Herman, menyatakan bahwa ajang ini dirancang bukan sekadar untuk memenuhi tugas akhir perkuliahan. Lebih dari itu, pameran tersebut menjadi jembatan konkret antara riset akademis di laboratorium kampus dengan kebutuhan riil di lapangan.
“Kami berharap masyarakat, pelaku industri, dan komunitas kreatif dapat melihat secara langsung bagaimana ide-ide mahasiswa berkembang menjadi inovasi yang siap memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat,” ujar Robertus saat diwawancarai di lokasi pameran di Malang, Kamis (9/7/2026).
Inovasi-inovasi yang dipamerkan mencakup sistem pemetaan digital untuk efisiensi UMKM, aplikasi berbasis IoT untuk pengelolaan lingkungan, hingga perangkat lunak interaktif yang mempermudah operasional industri kreatif lokal. Pendekatan sains terapan ini sengaja ditekankan agar hasil pemikiran mahasiswa tidak berakhir sebagai tumpukan kertas laporan di perpustakaan.
Respons positif juga datang dari para pelaku industri yang hadir dalam pameran riset tersebut. Beberapa purwarupa teknologi yang dipamerkan bahkan langsung dilirik oleh investor lokal untuk dikembangkan ke tahap komersialisasi yang lebih luas.
Melalui terobosan-terobosan ilmiah ini, mahasiswa di Kota Malang membuktikan bahwa riset akademis mampu menjadi motor penggerak solusi praktis bagi kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat.












