Home / Headline News / Health / Sering Dikira Cuma ‘Cari Perhatian’, Gejala Ini Ternyata Tanda Depresi pada Remaja!

Sering Dikira Cuma ‘Cari Perhatian’, Gejala Ini Ternyata Tanda Depresi pada Remaja!

Malang- Kesehatan mental pada remaja kini menjadi perhatian serius para ahli. Tekanan akademis yang tinggi ditambah paparan media sosial yang intens ditengarai menjadi pemicu utama melonjaknya kasus gangguan kecemasan hingga depresi pada generasi muda.

Sayangnya, banyak orang tua yang masih menganggap kondisi ini sekadar fase “mencari perhatian”.

Berdasarkan data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sekitar satu dari tiga remaja Indonesia usia 10-17 tahun memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka ini setara dengan 15,5 juta remaja di tanah air.

Gejala depresi pada remaja sering kali berbeda dengan orang dewasa. Remaja cenderung mengekspresikannya lewat perubahan perilaku yang drastis.

Pada orang dewasa, depresi mungkin terlihat dari wajah yang sedih atau menangis. Namun pada remaja, manifestasinya sering kali berupa iritabilitas atau emosi yang gampang meledak, menarik diri dari pertemanan, hingga penurunan nilai akademik secara mendadak.

Selain faktor hormonal yang sedang berkembang, lingkungan digital memegang peran besar dalam memperburuk kesehatan mental remaja hari ini. Kebiasaan doomscrolling (terus-menerus membaca berita atau konten negatif) memicu otak melepaskan hormon stres.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak yang menjadi “lampu kuning” atau tanda bahaya gangguan mental.

Berikut adalah beberapa tanda klinis yang harus diwaspadai:

  • Gangguan Tidur Kronis: Kesulitan tidur atau justru tidur berlebihan sepanjang hari.
  • Perubahan Pola Makan: Kehilangan nafsu makan atau makan berlebihan secara ekstrem
  • kehilangan Minat: Tidak lagi tertarik pada hobi atau aktivitas yang sebelumnya sangat mereka sukai.
  • Keluhan Fisik Tanpa Penyebab Medis: Sering mengeluhkan sakit kepala atau sakit perut yang tidak kunjung sembuh setelah diperiksa dokter fisik.

Jika tanda-tanda tersebut berlangsung lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua diimbau tidak menghakimi atau menganggap anak lemah.

Langkah terbaik adalah membawa anak berkonsultasi ke psikolog atau psikiater di puskesmas maupun rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan dini

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *