Dr. Drs. Mohamad Sinal, S.H., M.H., M.Pd
Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
Di antara gema selawat yang mengalun pada bulan Maulid, ada pertanyaan yang mengetuk kesadaran kita: sudahkah kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. mengubah cara kita memperlakukan sesama? Mencintai Rasulullah tentu indah ketika diucapkan melalui selawat. Akan tetapi cinta menemukan makna yang lebih dalam ketika menjelma menjadi kepedulian kepada manusia.
Oleh karena itu, maulid bukan hanya perayaan kelahiran, melainkan momentum untuk melahirkan kembali rasa kemanusiaan. Nabi Muhammad saw. hadir di tengah masyarakat yang sedang mengalami krisis kemanusiaan. Perbudakan dianggap biasa, perempuan kehilangan martabatnya, orang miskin diabaikan, dan kekuatan kabilah menentukan tinggi rendahnya kedudukan seseorang.
Islam kemudian hadir membawa perubahan besar dengan menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kemuliaan di hadapan Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al-Anbiya ayat 107. Kata rahmat mengandung makna yang jauh lebih luas daripada sekadar belas kasihan; di dalamnya terdapat kasih sayang, perlindungan, kelembutan, penghormatan, dan kepedulian.
Dengan demikian, semakin dekat seseorang kepada keteladanan Nabi, seharusnya semakin peka hatinya terhadap penderitaan di sekitarnya. Kita begitu mudah tersentuh ketika mendengar kisah perjuangan Rasulullah. Namun, belum tentu tersentuh ketika melihat kesulitan orang lain di depan mata.
Kita dapat meneteskan air mata ketika selawat dilantunkan. Akan tetap, terkadang berjalan melewati kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan tanpa ada rasa kegelisahan. Di sinilah Maulid seharusnya bergerak dari ritual menuju kesadaran sosial.
Kepekaan rasa adalah kemampuan hati untuk menangkap sesuatu yang mungkin tidak terucapkan. Ada orang yang tersenyum, tetapi sedang menyembunyikan kesedihan. Ada keluarga yang tampak baik-baik saja, tetapi sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya.
Hati yang peka tidak menunggu seseorang berteriak meminta pertolongan untuk mulai peduli. Keteladanan Rasulullah justru tampak dalam perhatian terhadap mereka yang sering berada di pinggir kehidupan. Anak yatim mendapatkan tempat istimewa, orang miskin dimuliakan, tetangga diperhatikan, perempuan dihormati, bahkan terhadap mereka yang berbeda keyakinan terdapat prinsip keadilan dan penghormatan kemanusiaan.
Jadi, kemuliaan manusia tidak boleh hilang hanya karena perbedaan status, suku, kekayaan, ataupun kedudukan. Pesan tersebut terasa semakin penting di tengah kehidupan modern. Teknologi membuat kita mengetahui penderitaan manusia hanya dalam hitungan detik, tetapi derasnya informasi terkadang justru membuat rasa menjadi tumpul.
Kita melihat musibah melalui layar, membaca penderitaan mereka, kemudian beberapa detik berikutnya berpindah kepada hiburan seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah-olah media sosial hanya menciptakan paradoks kemanusiaan. Kita semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat.
Semakin banyak berbicara, tetapi belum tentu semakin pandai mendengarkan. Lebih mengkhawatirkan lagi, penderitaan seseorang baru memperoleh perhatian setelah menjadi viral. Seakan-akan nilai kemanusiaan ditentukan oleh banyaknya orang yang melihat dan membicarakannya.
Padahal, Rasulullah mengajarkan perhatian kepada manusia bukan karena popularitasnya. Orang yang lemah tidak harus terkenal agar layak dibantu. Korban ketidakadilan tidak perlu menjadi perbincangan publik terlebih dahulu agar berhak memperoleh perlindungan.
Oleh karena itu, maulid seharusnya melahirkan keberanian untuk memeriksa diri sendiri. Kita mungkin begitu fasih mengucapkan nama Rasulullah, tetapi seberapa jauh kelembutan beliau hidup dalam perkataan kita. Kita mungkin rajin berselawat, tetapi apakah tangan kita juga ringan membantu orang lain?
Pertanyaan tersebut bukan untuk mengurangi nilai selawat, melainkan membawa selawat menuju maknanya yang lebih sempurna. Barangkali kita perlu mengingat bait sederhana:
kulantunkan selawat kepadamu
namun malu menatap diriku
begitu fasih kusebut namamu
namun berat meneladani pekertimu
Bait tersebut merupakan pengakuan tentang jarak antara kekaguman dan keteladanan. Kita dapat mencintai seseorang melalui kata-kata, tetapi cinta yang dewasa selalu melahirkan usaha untuk mendekati nilai-nilai yang dicintainya. Oleh karena itu, kecintaan kepada Nabi seharusnya membuat kita belajar menjadi manusia yang lebih lembut, jujur, adil, dan peduli.
Dalam kehidupan berbangsa, pesan maulid juga mempunyai relevansi yang kuat. Kekuasaan yang kehilangan kepekaan akan mudah melihat manusia sebagai angka, statistik, atau sekadar objek kebijakan. Hukum yang kehilangan rasa kemanusiaan dapat menjadi dingin meskipun prosedurnya terlihat benar. Keadilan membutuhkan aturan, tetapi pelaksanaannya juga membutuhkan nurani.
Dengan demikian, pejabat, aparat penegak hukum, pendidik, pengusaha, tokoh agama, hingga masyarakat biasa dapat menemukan teladan yang sama dalam kehidupan Rasulullah. Kekuasaan harus menjadi jalan pelayanan, ilmu menjadi jalan pencerahan, kekayaan menjadi jalan berbagi, dan hukum menjadi jalan menghadirkan keadilan. Kedudukan menjadi bermakna ketika kehadiran seseorang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
Kepekaan kemanusiaan juga dimulai dari sesuatu yang sederhana. Mendengarkan orang yang sedang mempunyai masalah. Menjaga perkataan agar tidak melukai, membantu tanpa menunggu diminta, dan menghormati mereka yang berbeda.
Bahkan sekadar bertanya dengan tulus kepada seseorang yang sedang kesulitan merupakan bentuk kecil dari kasih sayang. Semuanya tidak membutuhkan biaya. Akan tetapi, membutuhkan kerendahan hati.
Oleh karena itu, maulid Nabi bukan sekadar mengenang seorang manusia agung yang lahir berabad-abad silam. Maulid adalah kesempatan menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan hari ini—di rumah, tempat kerja, ruang publik, pemerintahan, dan dalam hubungan antarmanusia.
Kecintaan kepada Rasulullah tidak hanya terdengar dari merdunya selawat yang kita lantunkan. Namun, juga terlihat seberapa peka hati kita ketika melihat sesama yang membutuhkan pertolongan. Sebab meneladani Rasulullah bukan hanya menghadirkan kasih saying dalam ucapan, melainkan dalam setiap tindakan kemanusiaan.
Selawatlah dengan lisan, cintailah dengan hati, lalu teladanilah dengan perbuatan. Barangkali di situlah maulid menemukan maknanya yang paling indah. Ketika nama Nabi disebut di bibir, cinta dan kasih sayang dalam perilaku terus mengalir.
*) Oleh: Mohamad Sinal, Corporate Legal Consultant, Dewan Pakar DPN Peradi Profesional, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi geloranews.co.id
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi geloranews.co.id
*) rubik opini di geloranews untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Kirim tulisan anda beserta Curiculum Vitae dan pas foto ke email : mediageloranews@gmail.com. Tulisan yang layak dan berkualitas setelah melalui review oleh tim redaksi akan dipublikasikan maksimal 3 hari sejak opini dikirim.
*) Kirim tulisan anda beserta Curiculum Vitae dan pas foto ke email : mediageloranews@gmail.com. Tulisan yang layak dan berkualitas setelah melalui review oleh tim redaksi akan dipublikasikan maksimal 3 hari sejak opini dikirim.
