Samarinda – Kota Samarinda, Kalimantan Timur, dikepung kabut asap tebal yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Akibat pekatnya polusi udara tersebut, kualitas udara di ibu kota provinsi Kaltim ini sempat memburuk hingga berada pada kategori sangat tidak sehat.
Berdasarkan data Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) APT Pranoto Samarinda, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) sempat menembus angka 210,4 mikrogram per meter kubik ($\mu g/m^3$). Fenomena perarakan asap ini kian parah lantaran tertahan oleh lapisan awan di atmosfer bawah.
“Asap karhutla tertahan di lapisan bawah atmosfer akibat kondisi perawanan, sehingga konsentrasi PM2.5 melonjak tinggi dan masuk dalam kategori sangat tidak sehat,” ujar pihak BMKG APT Pranoto dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (18/9/2026).
Dampak dari kabut asap pekat ini juga berimbas langsung pada jarak pandang di kawasan Bandara APT Pranoto Samarinda yang sempat merosot tajam hingga menyentuh kisaran 1.000 hingga 2.000 meter dari jarak pandang normal 10 kilometer.
Pemerintah setempat pun mengambil langkah cepat guna melindungi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda memberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah secara daring selama beberapa hari ke depan.
“Masyarakat khususnya para siswa diimbau untuk tidak keluar rumah jika tidak diperlukan dan selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan karena kualitas udara sedang tidak baik-baik saja,” kata salah seorang warga Samarinda, Mei (38), saat mengeluhkan kondisi udara yang menyesakkan dada.
Hingga saat ini, tim gabungan penanggulangan bencana di Kalimantan Timur terus berupaya memadamkan sejumlah titik api karhutla yang menjadi sumber utama kabut asap, sementara warga diimbau untuk terus memantau informasi resmi pemerintah serta menjaga kesehatan di tengah darurat kabut asap ini.
