Home / Berita Terkini / Live Style / Digital Detox Jadi Tren Baru Anak Muda, Kurangi Waktu Layar demi Hidup Lebih Seimbang

Digital Detox Jadi Tren Baru Anak Muda, Kurangi Waktu Layar demi Hidup Lebih Seimbang

Malang – Di era serba digital, ponsel seolah menjadi benda yang tidak pernah lepas dari genggaman. Mulai dari bekerja, belajar, mencari hiburan, berbelanja, hingga berkomunikasi dengan orang lain dilakukan melalui gawai. Di tengah tingginya intensitas penggunaan perangkat digital tersebut, tren digital detox mulai banyak diterapkan oleh anak muda sebagai upaya menciptakan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

Digital detox adalah upaya mengurangi atau menghentikan sementara penggunaan perangkat digital seperti ponsel, laptop, tablet, maupun media sosial dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya bukan untuk meninggalkan teknologi sepenuhnya, melainkan memberi waktu istirahat bagi pikiran dari derasnya arus informasi, notifikasi, serta kebiasaan terus-menerus menatap layar.

Banyak orang memilih melakukan digital detox karena merasa terlalu bergantung pada gawai. Kebiasaan membuka media sosial hanya “sebentar”, tetapi berakhir berjam-jam menggulir berbagai konten, menjadi salah satu alasan yang paling sering dirasakan. Selain itu, notifikasi yang terus berdatangan juga kerap mengganggu fokus saat belajar atau bekerja, mengurangi kualitas waktu bersama keluarga maupun teman, bahkan membuat waktu tidur berkurang karena penggunaan ponsel hingga larut malam.

Melalui digital detox, seseorang berusaha mengembalikan keseimbangan antara kehidupan di dunia digital dan kehidupan nyata. Dengan mengurangi waktu layar, mereka memiliki kesempatan untuk lebih fokus menyelesaikan pekerjaan, menikmati hobi, berolahraga, membaca buku, atau sekadar beristirahat tanpa terganggu notifikasi yang terus bermunculan.

Praktik digital detox dapat dilakukan dengan berbagai cara yang sederhana. Misalnya, tidak membuka media sosial selama beberapa jam dalam sehari, mematikan notifikasi aplikasi yang tidak penting, tidak menggunakan ponsel saat makan bersama keluarga atau teman, menghindari penggunaan gawai satu hingga dua jam sebelum tidur, hingga meluangkan waktu di akhir pekan untuk menikmati aktivitas di luar ruangan tanpa bergantung pada ponsel.

Belakangan ini, semakin banyak anak muda yang mulai menerapkan kebiasaan tersebut. Selain ingin mengurangi screen time, mereka juga ingin lebih hadir dalam setiap aktivitas yang dijalani tanpa terus-menerus terdistraksi oleh layar.

Salah satu mahasiswa di Kota Malang, Aulia (21), mengaku mulai mencoba digital detox sejak beberapa bulan terakhir. Ia menyadari bahwa kebiasaannya membuka media sosial hanya untuk beberapa menit sering kali membuatnya kehilangan banyak waktu.

“Dulu kalau pegang HP niatnya cuma balas chat atau lihat Instagram sebentar, tapi malah keterusan sampai hampir satu jam. Sekarang aku mulai batasi. Setelah jam sembilan malam biasanya HP aku taruh di meja belajar, jadi sebelum tidur aku pilih baca buku atau ngobrol sama teman kos,” ujarnya.

Menurut Aulia, perubahan kebiasaan tersebut membuat waktu istirahatnya menjadi lebih berkualitas. Ia juga merasa lebih fokus saat mengerjakan tugas kuliah karena tidak lagi tergoda membuka media sosial setiap beberapa menit.

Tidak hanya itu, ia mulai menyadari bahwa banyak aktivitas sederhana yang ternyata lebih menyenangkan ketika dilakukan tanpa harus terus melihat layar ponsel. Mulai dari menikmati secangkir kopi, berjalan santai, hingga mengobrol dengan teman menjadi terasa lebih bermakna karena perhatian tidak lagi terbagi oleh notifikasi yang masuk.

Meski demikian, digital detox bukan berarti seseorang harus menjauh dari teknologi sepenuhnya. Mengingat hampir seluruh aktivitas saat ini dilakukan secara digital, yang terpenting adalah mampu mengatur batasan penggunaan gawai agar tetap mendukung produktivitas tanpa mengganggu kualitas hidup.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata, digital detox kini mulai menjadi bagian dari gaya hidup modern. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi waktu layar, mematikan notifikasi yang tidak penting, hingga menyediakan waktu khusus tanpa gawai menjadi langkah kecil yang dinilai mampu membantu seseorang menjalani hari dengan lebih fokus, tenang, dan berkualitas.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *