Penggunaan rokok elektrik atau vaping di kalangan remaja dan usia muda di Indonesia kian meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak yang beralih ke rokok elektrik karena klaim keliru bahwa alternatif ini “lebih aman” daripada rokok konvensional. Padahal, bahaya nyata justru mengintai organ pernapasan penggunanya. Padahal cairan (liquid) yang digunakan dalam vaping mengandung berbagai senyawa kimia berbahaya, bukan sekadar uap air beraroma buah.
Masyarakat harus paham bahwa uap vape itu adalah aerosol yang mengandung nikotin, zat perasa, logam berat, dan bahan kimia ultra-halus. Ketika dipanaskan dan dihirup, zat-zat ini masuk ke jaringan paru terdalam dan memicu peradangan hebat, Salah satu risiko paling fatal yang kini banyak ditemukan di dunia medis adalah EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury), yaitu kerusakan paru akut akibat penggunaan rokok elektrik.
Kandungan vitamin E asetat dan diacetyl yang sering digunakan sebagai pengental atau perasa pada liquid vape dapat merusak lapisan surfaktan, cairan pelindung di dalam alveolus (kantong udara paru). Saat benteng pertahanan itu rusak, sel-sel paru akan mengalami iritasi kronis. Akibatnya, paru-paru kehilangan kelenturannya untuk bertukar oksigen. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) meski usianya masih sangat muda
Berdasarkan data kunjungan klinis, pasien remaja yang datang dengan keluhan batuk persisten, sesak napas, hingga dada terasa nyeri akibat kebiasaan vaping mengalami peningkatan signifikan dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Gejala EVALI yang Harus Diwaspadai
Gejala kerusakan paru akibat vape sering kali mirip dengan infeksi pernapasan biasa, namun berkembang menjadi lebih buruk dengan cepat. Beberapa gejala klinis yang patut diwaspadai antara lain:
• Gangguan Pernapasan: Batuk kering yang tidak kunjung sembuh, napas pendek (ngos-ngosan), dan nyeri dada saat menarik napas.
• Gejala Sistemik: Demam, menggigil, dan penurunan berat badan secara drastis tanpa alasan yang jelas.
• Masalah Pencernaan: Beberapa kasus EVALI juga diawali dengan mual, muntah, hingga diare akibat respons peradangan sistemik tubuh.
Langkah Pencegahan dan Edukasi
Sebagai langkah antisipasi, peran aktif keluarga dan regulasi ketat dari pemerintah dinilai menjadi kunci utama untuk memutus rantai ketergantungan zat adiktif ini pada generasi muda.
• Edukasi Jujur di Rumah: Orang tua harus memberikan pemahaman berbasis data, bukan sekadar larangan, mengenai bahaya zat kimia dalam rokok elektrik.
• Batasi Akses Pembelian: Pengetatan regulasi penjualan produk vaping, terutama pembatasan usia pembeli di platform online maupun toko fisik.
• Konsultasi Medis: Bagi remaja yang sudah kecanduan nikotin dari vape, disarankan untuk mengikuti program konseling atau terapi berhenti merokok di fasilitas kesehatan terdekat.
Tidak ada istilah vape lebih aman dari rokok biasa. Keduanya sama-sama merusak tubuh dengan cara yang berbeda. Paru-paru kita didesain hanya untuk menghirup udara bersih, jadi stop memasukkan racun kimia ke dalamnya,












