KAB. MALANG – Di tengah tingginya gempuran jajanan kekinian yang tinggi gula dan lemak, Universitas Cipta Wacana Malang hadir membawa terobosan edukasi kesehatan untuk para remaja. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai oleh skema BIMA/Kemdiktisaintek, tim akademisi berupaya menyulap kebiasaan makan siswa SMP menjadi lebih sehat, bergizi, dan bertanggung jawab.
Kegiatan inovatif yang mengusung judul “Program Edukasi Literasi Gizi Berbasis Civic Responsibility melalui Konsumsi Buah Melon Unggul bagi Siswa SMP di Kota Malang” ini diselenggarakan di SMP Daarul Fikri yang berlokasi di Jl. Margo Joyo, Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada bulan Mei-Agustus 2026.
Program pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Supriadi, S.Pd., M.Pd., dari Program Studi PPKn, Fakultas FEIPSoshum dan Saintek. Pelaksanaan kegiatan ini juga diperkuat oleh kolaborasi anggota dosen, yakni Adhitya Rizky Arissaputra Aswanto, S.Tr.Gz., M.Gz., dan Arini Zulfaida, S.Pd., M.Pd., serta dibantu oleh partisipasi aktif dua orang mahasiswa, yaitu Sherly Setya Bintari dan Imam Gozali.
Dukungan Penuh Sekolah: Lawan Jajanan Berpengawet yang Merusak Kesehatan

Keterangan Foto: Momen diskusi dan koordinasi hangat antara tim pengabdian Universitas Cipta Wacana dengan Kepala SMP Daarul Fikri, Hidayatur Rokhman, S.H., M.Pd.I., beserta Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.
Inisiatif positif ini disambut dengan tangan terbuka oleh pihak sekolah. Kepala SMP Daarul Fikri, Hidayatur Rokhman, S.H., M.Pd.I., didampingi oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang (Waka) Kurikulum, menyatakan dukungan penuhnya terhadap program edukasi gizi ini. Menurutnya, langkah ini sangat krusial di tengah kebiasaan jajan remaja yang kian mengkhawatirkan.
“Kami dari pihak sekolah sangat men-support penuh program edukasi dari Universitas Cipta Wacana ini. Saat ini, kita melihat anak-anak sangat mudah terpapar jajanan manis yang penuh dengan bahan pengawet buatan. Jika dibiarkan, ini jelas akan merusak kesehatan dan menghambat perkembangan kognitif mereka,” tegas Hidayatur Rokhman. Ia menambahkan, edukasi melalui konsumsi buah segar ini sejalan dengan visi sekolah untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat secara fisik.
Menjawab Krisis Literasi Gizi Remaja

Keterangan Foto: Tim dosen tengah memberikan presentasi dan pemahaman aplikatif mengenai tingginya kandungan gizi pada buah melon unggul.
Masa remaja merupakan fase kritis dalam pembentukan pola hidup sehat. Namun, temuan awal di lapangan menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Sekitar 70 persen siswa lebih memilih jajanan tidak sehat, sementara kurang dari 25 persen siswa yang rutin mengonsumsi buah setiap harinya. Pengetahuan gizi yang diajarkan di sekolah selama ini sering kali hanya berakhir sebagai teori di dalam kelas, tanpa terwujud dalam praktik nyata saat jam istirahat.
Melihat fenomena tersebut, tim pengabdian Universitas Cipta Wacana menyadari perlunya sebuah pendekatan edukasi yang dirancang khusus dan relevan dengan karakteristik Generasi Z
Inovasi Digital dan Penanaman Tanggung Jawab Sosial

Keterangan Foto: Dosen Universitas Cipta Wacana memamerkan buah melon unggul sebagai percontohan pangan lokal sehat yang disiapkan untuk para siswa.
Alih-alih menggunakan metode penyuluhan satu arah, tim pelaksana menerapkan teknologi pembelajaran interaktif berbasis web. Melalui fasilitas komputer sekolah, para siswa diajak untuk mengeksplorasi e-modul, video animasi, hingga kuis digital yang komunikatif.
Hal yang paling membedakan dari program ini adalah penanaman nilai civic responsibility (tanggung jawab kewargaan). Para siswa diedukasi untuk memahami bahwa memilih makanan sehat bukan sekadar urusan pribadi, melainkan wujud kontribusi nyata mereka dalam membangun lingkungan sekolah yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Melon Unggul Sebagai Agen Perubahan

Keterangan Foto: Tim pelaksana dan mahasiswa pendamping bahu-membahu menyiapkan dan memotong buah melon unggul secara higienis di area sekolah.
Puncak dari edukasi ini adalah pembiasaan konsumsi buah. Buah melon unggul dipilih sebagai media edukasi berbasis potensi pangan lokal yang mudah diakses dan lezat. Secara terjadwal, tim dosen dan mahasiswa pendamping memandu para siswa melakukan praktik makan melon bersama di sekolah.

Keterangan Foto: Momen antusiasme para siswa SMP Daarul Fikri saat menerima dan menikmati potongan melon segar secara bersama-sama.
Pendekatan partisipatif ini terbukti membuahkan hasil yang sangat positif. Data evaluasi menunjukkan adanya lonjakan drastis: siswa yang rutin mengonsumsi buah setiap hari meningkat tajam menjadi 78 persen. Selain itu, kesadaran mereka terhadap risiko mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak juga meroket hingga 80 persen. Lebih dari sekadar peningkatan angka, program ini berhasil menciptakan budaya baru di mana para siswa mulai saling mengingatkan teman sebayanya untuk mengonsumsi buah secara rutin.

Keterangan Foto: Potret kebersamaan tim PkM Universitas Cipta Wacana dengan siswa-siswi di akhir acara. Sebuah langkah awal yang manis menuju budaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Melalui sinergi edukasi dari Universitas Cipta Wacana Malang ini, keterampilan gizi dan kesadaran lingkungan yang telah ditanamkan diharapkan tidak berhenti sampai di sini, melainkan terus terintegrasi dalam program harian sekolah guna mencetak generasi muda yang cerdas, sehat, dan peduli.
