GeloraNews, Malang — Tepat empat tahun lalu, Sabtu, 1 Oktober 2022, Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi lokasi tragedi yang menorehkan luka mendalam dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Sebanyak 135 orang meninggal dunia setelah kericuhan terjadi seusai pertandingan Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya.
Tragedi tersebut terjadi setelah pertandingan berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Persebaya Surabaya. Sejumlah suporter kemudian masuk ke lapangan sehingga terjadi kericuhan.
Dalam situasi tersebut, aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Asap gas air mata kemudian menyebar ke sejumlah area tribune dan membuat penonton panik mencari jalan keluar stadion.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM dalam hasil penyelidikannya mencatat adanya tembakan gas air mata ke arah tribune, termasuk kawasan Pintu 13.
Kepanikan terjadi ketika penonton berusaha keluar stadion. Di sejumlah pintu keluar terjadi penumpukan massa. Sejumlah penonton jatuh, terinjak dan mengalami sesak napas hingga akhirnya meninggal dunia.
Tragedi Kanjuruhan kemudian menjadi perhatian nasional dan internasional. Pemerintah membentuk tim untuk mengusut peristiwa tersebut. Proses hukum terhadap sejumlah pihak juga telah dilakukan.
Namun, bagi keluarga korban, perjalanan untuk memperoleh keadilan dan pemulihan tidak berhenti setelah proses hukum berlangsung.
Pada 28 Agustus 2025, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban atau LPSK menyerahkan restitusi kepada 72 korban atau keluarga korban. Total restitusi yang dibayarkan mencapai Rp670 juta berdasarkan penetapan Pengadilan Tinggi Surabaya.
Ketua LPSK Achmadi mengatakan restitusi tersebut diberikan berdasarkan keputusan pengadilan.
“Itu keputusan dari pengadilan, itu yang kita terima. Sehingga kita melaksanakan mandat itu,” kata Achmadi pada 28 Agustus 2025.
Sementara itu, keluarga korban masih terus membawa ingatan tentang orang-orang yang mereka kehilangan pada malam 1 Oktober 2022.
Perwakilan keluarga korban, Nuri Hidayat, pada peringatan tiga tahun Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2025 menyampaikan pentingnya menjaga ingatan terhadap tragedi tersebut.
“Dengan acara ini bisa merawat ingat dan menolak lupa, kami berharap setiap tahun ada kegiatan seperti ini sehingga tidak dilupakan,” kata Nuri.
Pada 1 Oktober 2026, peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan kembali digelar. Arema FC bersama Aremania menggelar sejumlah kegiatan untuk mengenang 135 korban.
Arema FC menjadwalkan Munajat Akbar “Doa Untukmu Nawak” di halaman Stadion Kanjuruhan pada Kamis, 1 Oktober 2026 malam. Selain itu, kegiatan khataman Al-Qur’an dan tahlil juga digelar bersama warga sekitar dan karyawan klub.
Head of Public Relation Arema FC Munif B. Wakid mengatakan kegiatan tersebut menjadi agenda rutin untuk mengenang para korban.
“Setiap tanggal 1 Oktober, Arema FC secara rutin menggelar khataman Al-Qur’an dan tahlil bersama warga sekitar Kandang Singa serta seluruh karyawan,” ujar Munif dalam keterangan klub pada 30 September 2026.
Peringatan Tragedi Kanjuruhan juga mendapat perhatian dari Timnas Indonesia. Pelatih Timnas Indonesia John Herdman mengatakan skuad Garuda perlu memberikan penghormatan kepada para korban saat menghadapi Bangladesh pada 1 Oktober 2026.
“Penting bagi para pemain untuk tampil mewakili negara dengan cara yang benar besok, sekaligus memberi penghormatan bagi mereka yang kehilangan nyawanya dalam tragedi Kanjuruhan,” kata Herdman pada 30 September 2026.
Empat tahun telah berlalu sejak malam kelam di Stadion Kanjuruhan. Namun, bagi keluarga korban dan masyarakat Malang, 1 Oktober bukan sekadar tanggal.
Tanggal tersebut menjadi pengingat atas 135 nyawa yang hilang dalam tragedi sepak bola yang seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak.
Menolak lupa bukan berarti terus hidup dalam kesedihan. Menolak lupa berarti mengingat para korban, mendengar suara keluarga yang ditinggalkan, serta memastikan keselamatan dan kemanusiaan menjadi hal utama dalam setiap pertandingan sepak bola.
1 Oktober 2022 akan selalu menjadi bagian dari sejarah sepak bola Indonesia.
Dan bagi mereka yang kehilangan orang tercinta, luka itu tidak selesai hanya karena waktu terus berjalan.
