MALANG, 16 Oktober 2026 — Matinya sejumlah lampu hias di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, dikeluhkan wisatawan dan masyarakat. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keseriusan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dalam menjaga fasilitas penunjang destinasi wisata yang selama ini menjadi salah satu daya tarik kota.
Kayutangan Heritage dikenal sebagai kawasan wisata yang ramai dikunjungi masyarakat, khususnya pada malam hari. Pencahayaan dekoratif menjadi salah satu elemen yang memperkuat suasana kawasan sekaligus mendukung aktivitas wisatawan yang berjalan-jalan dan berfoto.
Namun, ketika sejumlah lampu tidak berfungsi, daya tarik kawasan tersebut dinilai tidak tampil maksimal. Kondisi ini bukan sekadar persoalan estetika, melainkan juga menyangkut kualitas pemeliharaan fasilitas publik yang digunakan masyarakat.
Aktivis sekaligus Ketua Bidang Anti Korupsi GERRINDO Kota Malang, Farel, menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah. Menurutnya, pembangunan dan penataan kawasan wisata harus diikuti dengan pemeliharaan yang konsisten.
“Jangan sampai pemerintah begitu bersemangat menata kawasan wisata agar terlihat menarik, tetapi pemeliharaan fasilitasnya justru tidak maksimal. Kalau lampu-lampu yang menjadi daya tarik kawasan dibiarkan mati, masyarakat tentu berhak mempertanyakan bagaimana pengelolaannya,” ujar Farel.
Ia menilai, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan keberhasilan penataan kawasan untuk membangun citra pariwisata Kota Malang. Keberlanjutan pemeliharaan juga harus menjadi perhatian agar fasilitas yang telah tersedia benar-benar dapat dinikmati masyarakat.
Menurutnya, fasilitas publik yang mengalami kerusakan atau tidak berfungsi seharusnya segera ditangani melalui mekanisme pemantauan dan perbaikan yang jelas.
“Yang perlu dilihat bukan hanya apakah kawasan ini sudah ditata dengan baik, tetapi juga apakah fasilitasnya dirawat secara rutin. Jangan sampai masyarakat hanya menikmati hasil penataan pada awalnya, kemudian harus berulang kali menghadapi fasilitas yang tidak berfungsi,” katanya.
Matinya lampu hias juga menimbulkan persoalan mengenai pengalaman wisatawan. Bagi pengunjung yang datang pada malam hari, pencahayaan menjadi bagian penting dari suasana yang ingin dinikmati di Kayutangan Heritage.
Apabila fasilitas tersebut tidak berfungsi, pengalaman wisata yang ditawarkan dapat berkurang. Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi aktivitas pelaku usaha di sekitar kawasan yang mengandalkan kunjungan masyarakat.
Farel menilai Pemkot Malang perlu memiliki pola pemeliharaan yang lebih terukur, termasuk pendataan fasilitas yang rusak, penentuan prioritas perbaikan, serta kepastian tindak lanjut atas keluhan masyarakat.
“Jangan menunggu sampai keluhan ramai di media sosial baru kemudian fasilitas diperiksa. Seharusnya ada pemantauan rutin sehingga kerusakan bisa diketahui lebih awal dan segera ditangani,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan pemerintah dalam menjelaskan kondisi fasilitas dan tindak lanjut perbaikannya. Dengan begitu, masyarakat dapat mengetahui apakah persoalan yang dikeluhkan benar-benar sedang ditangani atau justru belum memiliki penyelesaian yang jelas.
Persoalan lampu hias di Kayutangan Heritage seharusnya menjadi momentum bagi Pemkot Malang untuk mengevaluasi pengelolaan fasilitas wisata secara menyeluruh.
Pemerintah perlu memastikan bahwa pemeliharaan tidak hanya dilakukan ketika kerusakan menjadi perhatian publik. Pemeriksaan berkala, respons terhadap keluhan, dan kejelasan tindak lanjut harus menjadi bagian dari pengelolaan kawasan wisata.
Farel menegaskan, pemerintah perlu menunjukkan bahwa perhatian terhadap pariwisata tidak berhenti pada pembangunan fisik dan penampilan kawasan.
“Kalau ingin Kayutangan terus menjadi kebanggaan Kota Malang, jangan hanya memperhatikan tampilannya ketika ditata. Pastikan fasilitasnya juga berfungsi dan terawat. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kawasan yang bagus untuk dilihat, tetapi juga fasilitas yang benar-benar siap digunakan,” tegasnya.
Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan destinasi wisata tidak cukup diukur dari ramainya pengunjung atau menariknya tampilan kawasan. Konsistensi pemeliharaan dan kemampuan pemerintah merespons persoalan di lapangan juga menjadi tolok ukur penting.
Pemkot Malang perlu memastikan bahwa Kayutangan Heritage tidak hanya menarik sebagai tujuan wisata, tetapi juga tetap terawat dan nyaman dinikmati masyarakat.
