n salah satu penyebab gangguan pasokan di Bali adalah kendala teknis yang dialami kapal tanker saat akan melakukan proses bongkar muat BBM.
“Salah satu penyebab utama adalah salah satu kapal ketika kemarin pada saat untuk discharge kargo itu mengalami kesulitan di anchor, jangkarnya,” ujar Simon.
Kendala tersebut membuat jadwal bongkar muat yang semula direncanakan sekitar pukul 06.30 WITA mundur hingga sekitar pukul 22.00 WITA. Keterlambatan itu kemudian berdampak terhadap rantai distribusi BBM menuju SPBU.
Selain gangguan teknis kapal, Pertamina juga menyebut adanya peningkatan konsumsi, terutama terhadap BBM bersubsidi Pertalite. Kondisi tersebut membuat kebutuhan di lapangan meningkat ketika distribusi mengalami keterlambatan.
“Namun sekali lagi, kejadian ini tidak untuk mencari pembenaran bagi kami. Bagaimanapun juga yang terpenting adalah pelayanan bagi masyarakat,” kata Simon.
Untuk mempercepat pemulihan, Pertamina mendatangkan tambahan pasokan BBM ke Bali. Pada periode 14-17 Oktober 2026, Pertamina Patra Niaga mendatangkan total sekitar 57,9 juta liter BBM yang terdiri atas 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax.
Pertamina juga memperkuat operasional SPBU dan distribusi dari terminal BBM. Sebanyak 92 SPBU di wilayah Denpasar dan Badung dioperasikan selama 24 jam, sementara armada truk tangki penyuplai ditambah dari 90 unit menjadi 105 unit. Distribusi juga mendapat pengawalan aparat untuk mempercepat perjalanan dari depo menuju SPBU.
Pemerintah Provinsi Bali turut mengambil langkah untuk mengurangi dampak kelangkaan. Gubernur Bali Wayan Koster meminta masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying karena pasokan tambahan terus didatangkan.
Sementara itu, persoalan serupa juga terjadi di Malang Raya. Sejumlah SPBU dilaporkan mengalami kekosongan Pertalite dan antrean kendaraan sempat mengular. Bahkan pada 14 Oktober 2026, sejumlah SPBU di Malang dilaporkan tutup sementara karena stok BBM bersubsidi habis.
Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus sebelumnya menjelaskan kondisi di Malang Raya berkaitan dengan penyesuaian pola distribusi dan pengelolaan rantai pasok. Pengiriman BBM dari Surabaya ke Malang dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan di lapangan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan rata-rata kebutuhan BBM di wilayah Malang pada September 2026 mencapai sekitar 720 kiloliter per hari.
“Kebutuhan BBM masyarakat di Malang menjadi perhatian kami dalam mengatur pola pengiriman dan menjaga kelancaran pasokan,” ujar Ahad dalam keterangan tertulis, Kamis, 8 Oktober 2026.
Pertamina menyebut pengiriman dari Surabaya ke Malang dilakukan beberapa kali dalam sehari dan frekuensinya dapat ditambah pada akhir pekan. Fuel Terminal Malang juga dioperasikan selama 24 jam untuk mendukung kesiapan penyaluran BBM.
Di sisi pemerintah, Bahlil memastikan persoalan distribusi tersebut menjadi perhatian dan akan dikoordinasikan dengan Pertamina. Pemerintah juga menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan, sementara harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga minyak dunia.
Dengan demikian, berdasarkan keterangan pemerintah dan Pertamina, kelangkaan BBM yang terjadi di sejumlah wilayah bukan disebabkan oleh habisnya stok BBM nasional. Faktor yang muncul dalam penjelasan resmi antara lain gangguan teknis kapal tanker, keterlambatan bongkar muat, penyesuaian pola distribusi, serta peningkatan permintaan masyarakat.
Pemerintah dan Pertamina kini dituntut memastikan tambahan pasokan benar-benar sampai ke SPBU secara merata. Sebab, bagi masyarakat, ukuran keberhasilan penanganan bukan hanya terjaminnya stok di tingkat nasional, tetapi BBM tersedia ketika dibutuhkan tanpa harus mengantre berjam-jam.
GeloraNews | Jumat, 16 Oktober 2026
