BATU – Ancaman banjir membayangi wilayah Kota Batu setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Arjuno-Welirang. Memasuki musim hujan, kerusakan tutupan vegetasi akibat kebakaran berpotensi mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Kondisi ini menjadi peringatan bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Batu untuk mengantisipasi dampak lanjutan karhutla.
Hujan perdana yang mengguyur Kota Batu pada 24 Oktober 2026 menjadi perhatian di tengah kondisi lahan yang terdampak kebakaran. Tanpa langkah mitigasi yang memadai, kawasan dengan vegetasi rusak berisiko mengalami peningkatan limpasan air hujan yang dapat memicu erosi hingga banjir dan aliran material dari lereng.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi menyebut, luas area terdampak kebakaran di kompleks Gunung Arjuno-Welirang mencapai 1.090 hektare. Sementara itu, sekitar 25 hektare lahan di wilayah Kota Batu tercatat terbakar.
Ancaman belum sepenuhnya mereda. Sebanyak 11 titik panas baru juga ditemukan di Kecamatan Bumiaji. Temuan ini menunjukkan bahwa potensi kebakaran masih perlu diwaspadai, sementara pemerintah daerah harus mulai mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi yang dapat muncul ketika intensitas hujan meningkat.
Situasi tersebut menuntut Pemkot Batu tidak hanya berfokus pada penanganan kebakaran, tetapi juga memastikan kesiapan menghadapi dampak setelahnya. Pemetaan kawasan rawan banjir dan longsor, pemeriksaan kondisi lereng serta aliran sungai, hingga pemulihan vegetasi di lahan terdampak menjadi langkah yang perlu diperhatikan.
Selain itu, kesiapan sistem peringatan dini dan jalur evakuasi di wilayah rawan juga penting untuk mengurangi risiko bagi warga. Terlebih, kawasan pegunungan dengan kondisi tutupan lahan yang rusak membutuhkan penanganan yang disesuaikan dengan tingkat kerawanan masing-masing lokasi.
Besarnya area terdampak karhutla menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak berhenti ketika api padam. Pemkot Batu perlu memastikan langkah pencegahan berjalan sebelum hujan dengan intensitas tinggi meningkatkan risiko bencana bagi masyarakat.
Tanpa mitigasi yang terencana dan respons yang cepat, kerusakan akibat karhutla berpotensi berkembang menjadi persoalan baru saat musim hujan berlangsung.
