Belakangan ini beredar isu di masyarakat yang menyebutkan bahwa mobil listrik rentan terhadap medan magnet di rel kereta api. Kabar tersebut memicu kekhawatiran bahwa kendaraan ramah lingkungan ini bisa mendadak mogok dan mati mesin saat melintasi perlintasan sebidang. Namun, benarkah demikian?
Secara ilmiah, medan magnet di rel kereta api dinilai tidak mampu mengganggu sistem kelistrikan pada mobil listrik modern. Rumor yang menyebut mobil listrik rentan mengalami gangguan di perlintasan sebidang dipastikan tidak memiliki dasar teknis yang kuat.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa kekuatan medan magnet di sekitar rel kereta sebenarnya sangat kecil. Angkanya hanya berkisar antara 0,5 sampai 5 mikroTesla ($\mu\text{T}$).
“Angka ini jauh lebih lemah dibandingkan medan magnet alami bumi yang mencapai 25-65 $\mu\text{T}$,” ujar Yannes.
Artinya, frekuensi medan magnet pada rel tergolong sangat rendah, yaitu di bawah 50 Hz. Dengan daya sekecil itu, rel kereta tidak memiliki energi yang cukup untuk menginduksi arus listrik signifikan pada sistem elektronik kendaraan.
Lolos Uji Standar Internasional yang Ketat
Fakta lain yang mematahkan rumor ini adalah ketatnya standarisasi industri otomotif modern. Sebelum dipasarkan ke publik, seluruh komponen elektronik pada kendaraan modern wajib lolos uji standar Electromagnetic Compatibility (EMC) internasional.
Salah satu standar yang harus dipenuhi adalah ISO 11452. Standar ini mewajibkan kendaraan memiliki ketahanan terhadap gangguan radiasi elektromagnetik hingga ratusan V/m (volt per meter).
“Sementara itu, paparan dari medan magnet di rel kereta hanya setara dengan kurang dari 0,01 V/m,” kata Yannes.
Selain ISO 11452 untuk memastikan ketahanan komponen terhadap medan elektromagnetik, mobil listrik juga dirancang memenuhi standar ISO 11451 serta ISO 7637 untuk menguji gangguan listrik pada sistem tegangan tinggi.
Proteksi Alami ala ‘Faraday Cage’
Tidak hanya sistem elektroniknya yang tangguh, struktur fisik kendaraan juga dirancang untuk melindungi komponen sensitif di dalamnya. Bodi mobil yang berbahan logam secara alami berfungsi sebagai pelindung elektromagnetik atau dikenal dengan istilah Faraday Cage.
Struktur ini mampu meredam radiasi eksternal hingga 40-60 dB. Efek proteksi ini membuat medan magnet eksternal dari rel berkurang drastis hingga 100 sampai 1.000 kali lipat sebelum bisa menyentuh otak mobil atau Electronic Control Unit (ECU).
“Dengan demikian, tidak ada satu pun mekanisme fisika atau teknik yang memungkinkan medan magnet perlintasan kereta menyebabkan mobil berhenti atau mogok,” ucapnya tegas.
Mobil Konvensional vs Mobil Listrik
Yannes meyakini bahwa mobil listrik secara teknis memiliki ketahanan yang sangat tinggi terhadap gangguan elektromagnetik. Kecil kemungkinan bagi mobil listrik untuk mati mendadak hanya karena melintasi jalur kereta api.
Proteksi berlapis yang ditanamkan sejak awal pengembangan membuat mobil listrik sama amannya—atau bahkan lebih aman—dibandingkan mobil konvensional saat melewati perlintasan sebidang.
“Secara teknis, mobil listrik memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api, karena medan elektromagnetik yang dihasilkan rel terlalu lemah untuk memengaruhi sistem kelistrikan kendaraan, baik mobil listrik maupun mobil berbahan bakar konvensional,” pungkasnya.










