MALANG — Harga cabai yang masih tinggi di pasaran kembali menunjukkan persoalan klasik dalam pengendalian harga pangan. Di tengah pasokan yang belum stabil, pedagang justru memilih mengurangi stok karena khawatir barang tidak terserap atau mengalami kerugian ketika harga kembali berubah.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa gejolak harga cabai belum sepenuhnya mampu dikendalikan. Di sejumlah pasar di Malang, harga cabai masih berada pada level tinggi seiring berkurangnya pasokan dari petani. Faktor musim, keterbatasan air, hingga gangguan pada tanaman turut memengaruhi produksi.
Bagi pedagang, situasi ini membuat pengelolaan stok menjadi serba sulit. Menambah persediaan berarti membutuhkan modal lebih besar dengan risiko kerugian yang semakin tinggi. Sebaliknya, mengurangi stok juga berpotensi membuat ketersediaan cabai di pasar semakin terbatas.
Persoalan tersebut semestinya tidak berhenti pada alasan musim atau siklus panen. Pemerintah perlu menunjukkan langkah yang lebih konkret untuk memastikan rantai pasok tetap berjalan, terutama ketika produksi dari daerah sentra mengalami penurunan.
Sebelumnya, Pemkot Malang memang telah melakukan intervensi melalui Warung Tekan Inflasi ketika harga cabai melonjak. Langkah tersebut sempat mendorong harga turun dari level tertingginya. Namun, kembali tingginya harga cabai menunjukkan bahwa intervensi semacam itu perlu diikuti strategi yang lebih berkelanjutan, bukan hanya dilakukan ketika harga sudah terlanjur melonjak.
Pemerintah juga perlu memperkuat antisipasi dari sisi produksi. Ketergantungan pada kondisi musim tanpa strategi mitigasi yang memadai membuat harga komoditas mudah bergejolak setiap kali pasokan terganggu.
Bagi masyarakat, kenaikan harga cabai bukan sekadar persoalan satu komoditas. Harga bahan baku yang meningkat ikut menekan pedagang makanan dan pelaku UMKM kuliner yang berada dalam posisi sulit untuk menaikkan harga jual. Sebagian bahkan terpaksa mengurangi penggunaan cabai atau menekan keuntungan agar pelanggan tidak beralih.
Karena itu, pemerintah dituntut tidak hanya hadir saat harga sudah menjadi persoalan. Penguatan produksi, kepastian distribusi, pemantauan stok, serta intervensi pasar yang tepat waktu perlu dilakukan secara berkesinambungan.
Sebab, jika pedagang terus dipaksa menghadapi ketidakpastian harga dengan modal sendiri, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar mengapa harga cabai mahal, tetapi sejauh mana sistem pengendalian pangan daerah benar-benar mampu melindungi pedagang dan konsumen.
