Malang – Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Malang yang mengeklaim tengah mengintensifkan pembersihan sampah di sistem drainase dan saluran air menjelang musim hujan dinilai terlambat dan reaktif. Kritik tajam dilayangkan publik karena penanganan baru gencar dilakukan setelah ancaman genangan dan banjir di sejumlah titik kawasan protokol mulai membayangi.
Pembersihan yang diprioritaskan pada lokasi-lokasi rawan sumbatan dinilai sekadar solusi jangka pendek yang berulang setiap tahun tanpa ada penyelesaian teknis pada akar masalah.
Ahmad Sugiharto (42), warga kawasan Jalan Hamid Rusdi, Kecamatan Blimbing, mengeluhkan pola penanganan banjir Pemkot Malang yang dinilai baru bergerak ketika memasuki musim penghujan.
“Tiap mau hujan pasti baru sibuk pengerukan dan angkut sampah drainase. Harusnya perawatan dan perbaikan sistem drainase itu dilakukan konsisten sepanjang tahun, bukan cuma kerja bakti dadakan pas musim hujan sudah di depan mata,” ujar Ahmad saat ditemui di lokasi, Senin (5/10/2026).
Ahmad menambahkan, persoalan utama tidak hanya terletak pada tumpukan sampah masyarakat, tetapi juga pada kapasitas dan struktur drainase Kota Malang yang sudah tidak memadai menampung debit air hujan.
“Kalau cuma mengandalkan pengangkutan sampah manual tanpa ada perbaikan drainase secara menyeluruh, genangan air pasti bakal terus berulang tiap hujan deras,” tegasnya.
Pemberitaan mengenai upaya intensif Pemkot Malang dalam membersihkan drainase guna menekan potensi banjir sebelumnya disorot publik pada Minggu (4/10/2026). Kendati Pemkot Malang mengeklaim langkah tersebut sebagai bentuk kesiapsiagaan, warga mendesak adanya evaluasi total terhadap sistem tata kelola drainase kota agar penyelesaian banjir tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan.
