Home / Sains / Bakteri Purba Pemakan Plastik di Palung Jawa, Solusi Baru Sampah Laut?

Bakteri Purba Pemakan Plastik di Palung Jawa, Solusi Baru Sampah Laut?

Malang – Sebuah terobosan besar dalam dunia sains kembali lahir dari ekspedisi laut dalam Indonesia. Tim peneliti mikrobiologi laut berhasil mengisolasi spesies bakteri purba unik dari sedimen Palung Jawa yang memiliki kemampuan luar biasa: mendegradasi atau “memakan” plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET) jauh lebih cepat daripada bakteri darat yang dikenal selama ini.

Bakteri yang ditemukan di kedalaman lebih dari 6.000 meter ini termasuk dalam kelompok ekstrofil, yaitu organisme yang mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrem dengan tekanan hidrostatis tinggi, minim oksigen, dan suhu mendekati titik beku. Kondisi ekstrem di dasar Palung Jawa telah memaksa bakteri ini berevolusi untuk memanfaatkan sumber karbon apa pun yang ada, termasuk mikroplastik yang tenggelam ke dasar samudra.

Mekanisme ‘Mengunyah’ Plastik

Plastik PET merupakan bahan baku utama yang digunakan untuk membuat botol plastik sekali pakai dan serat pakaian sintetik. Di alam bebas, plastik jenis ini membutuhkan waktu hingga 450 tahun untuk bisa hancur secara alami. Cara kerja bakteri tersebut, pertama-tama akan menempel pada permukaan plastik dan membentuk lapisan biologis (biofilm). Kemudian, mereka menyekresikan enzim ke luar tubuhnya untuk mencerna polimer plastik menjadi monomer yang lebih sederhana, seperti asam tereftalat dan etilen glikol. Monomer-monomer inilah yang kemudian diserap oleh bakteri sebagai sumber energi mereka.

Tantangan Replikasi di Luar Laut Dalam

Meskipun penemuan ini membawa angin segar bagi penanganan krisis sampah plastik global, terdapat catatan penting mengenai tantangan penerapan teknologi ini di skala industri komersial. Karena sifat asli bakteri ini yang hidup di lingkungan ekstrem (obligate piezophile), mereka akan mati jika dibawa langsung ke permukaan bumi dengan tekanan udara normal.

Beberapa langkah riset lanjutan yang kini sedang diprioritaskan oleh tim ilmuwan antara lain:

  • Rekayasa Genetika Enzim: Ilmuwan tidak akan menggunakan bakterinya secara langsung di darat, melainkan mengisolasi gen penyandi enzim pemakan plastik tersebut untuk disisipkan ke bakteri laboratorium yang biasa hidup di darat seperti E. coli.
  • Optimalisasi Reaktor Biologi: Merancang reaktor khusus yang dapat menduplikasi kondisi ideal agar proses degradasi limbah plastik dapat dilakukan dalam skala berton-ton secara efisien.
  • Uji Keamanan Lingkungan: Memastikan bahwa produk sampingan (byproduct) dari penguraian plastik oleh enzim ini sepenuhnya aman bagi lingkungan dan tidak memicu racun baru.

Alam menyediakan solusi atas masalah yang diciptakan manusia. Namun, masyarakat jangan sampai salah kaprah. Penemuan ini bukan berarti kita bisa bebas membuang sampah plastik ke laut dengan berpikir nanti akan dimakan bakteri. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai tetap menjadi kunci utama.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *