GELORANEWS, Jakarta — Membuat video pendek, mengunggah foto aktivitas harian, hingga membagikan cerita melalui media sosial kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat digital. Platform seperti TikTok dan Instagram dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman, mengekspresikan diri, membangun personal branding, hingga membuka peluang usaha.
Kebiasaan tersebut membuat aktivitas sederhana, seperti menyiapkan sarapan, berolahraga, bekerja, berwisata, hingga mengunjungi tempat kuliner, dapat dikemas menjadi konten yang menarik untuk ditonton.
Pada 2026, tren pembuatan konten media sosial juga semakin beragam. Video pendek, konten keseharian atau A Day in My Life, cerita dari sudut pandang pribadi, hingga konten edukasi menjadi sejumlah format yang dapat digunakan kreator untuk menjangkau audiens.
Kreator tidak selalu membutuhkan peralatan mahal untuk memulai. Kamera ponsel, pencahayaan yang memadai, suara yang jelas, serta kemampuan menyusun cerita menjadi modal awal untuk menghasilkan foto dan video yang menarik.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah merekam aktivitas sehari-hari secara singkat. Misalnya, membuat video perjalanan menuju tempat kerja, memperlihatkan suasana tempat makan, membagikan rutinitas olahraga, atau menyampaikan tips sederhana yang bermanfaat bagi penonton.
Agar konten lebih menarik, kreator dapat memulai video dengan kalimat pembuka yang membuat audiens penasaran. Setelah itu, isi video disusun secara ringkas, dilengkapi teks yang mudah dibaca, dan diakhiri dengan pesan atau ajakan berinteraksi.
Video sebaiknya direkam dalam format vertikal agar sesuai dengan tampilan TikTok dan Instagram Reels. Kreator juga dapat menggunakan aplikasi penyuntingan video untuk memotong bagian yang tidak diperlukan, mengatur suara, serta menambahkan teks pendukung.
Meski demikian, jumlah penonton dan peluang masuk halaman rekomendasi tidak dapat dijamin hanya dengan mengikuti tren. Konsistensi, relevansi konten, kualitas penyampaian, serta respons audiens menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Selain membuat video, mengunggah foto juga tetap menjadi pilihan untuk membagikan momen. Foto makanan, pemandangan, aktivitas kerja, maupun kegiatan bersama keluarga dapat menjadi sarana bercerita selama memperhatikan konteks dan kelayakan publikasinya.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua aktivitas layak direkam dan diunggah begitu saja. Privasi orang lain harus dihormati, terutama ketika konten menampilkan wajah, percakapan, atau informasi pribadi seseorang. Meminta izin sebelum memublikasikan rekaman yang menampilkan orang lain merupakan langkah bijak untuk menghindari persoalan privasi.
Kreator juga perlu memastikan informasi yang disampaikan tidak menyesatkan, tidak mengandung fitnah, serta tidak menggunakan foto, video, atau musik milik pihak lain tanpa memperhatikan hak penggunaannya.
Kementerian Komunikasi dan Digital turut mengingatkan pentingnya kecermatan masyarakat dalam memeriksa keaslian foto dan video yang beredar. Konten yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau AI juga perlu disajikan secara transparan apabila berpotensi membuat audiens menganggapnya sebagai kejadian nyata.
Pada akhirnya, membuat konten lifestyle bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar jumlah tayangan. Media sosial dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, mengembangkan kreativitas, membangun reputasi, serta memperkenalkan usaha kepada masyarakat.
Dengan perencanaan sederhana, penyampaian yang menarik, dan sikap bertanggung jawab, siapa pun dapat mulai membuat konten dari aktivitas sehari-hari tanpa harus menunggu memiliki peralatan profesional.
Jakarta, 21 Oktober 2026
GELORANEWS
