MALANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno, Kabupaten Malang, masih menyisakan persoalan penanganan. Hingga Kamis (22/10) pukul 13.00, delapan titik api terpantau di kawasan tersebut. Namun, luas lahan yang terbakar belum dapat dipastikan karena masih dalam proses pendataan.
Tim gabungan memfokuskan pemadaman di Desa Tawangargo dan Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso. Medan yang terjal menjadi salah satu kendala petugas dalam menjangkau titik api dan memperlambat proses penanganan di lapangan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menyatakan bahwa petugas masih melakukan pemadaman melalui jalur darat sekaligus memantau perkembangan titik api.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api meluas. Upaya pencegahan dan kesiapan menghadapi kebakaran di kawasan rawan juga menjadi hal penting untuk mengurangi risiko kerusakan hutan yang lebih besar.
Belum terdatanya luas lahan yang terbakar juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui tingkat kerusakan, menentukan kebutuhan penanganan lanjutan, serta mengevaluasi dampak kebakaran terhadap kawasan hutan.
Di tengah kendala medan yang terjal, kesiapan personel, sarana pemadaman, dan strategi menjangkau titik api menjadi faktor penting dalam penanganan karhutla. Pemerintah Kabupaten Malang perlu memastikan koordinasi antarpihak berjalan efektif agar pemadaman tidak terhambat dan kebakaran tidak terus meluas.
Selain penanganan darurat, evaluasi terhadap langkah pencegahan juga diperlukan. Pemantauan kawasan rawan, deteksi dini, dan kesiapan menghadapi musim kering perlu menjadi bagian dari upaya berkelanjutan, bukan sekadar respons ketika kebakaran sudah terjadi.
Dengan delapan titik api yang masih terpantau, penanganan karhutla di Gunung Arjuno menjadi ujian bagi kesiapan pemerintah daerah dalam melindungi kawasan hutan. Kecepatan pemadaman perlu diimbangi dengan langkah pencegahan dan evaluasi agar kejadian serupa tidak terus berulang.
