George Russell mengemudikan Mercedes dengan kontrol penuh dari pole sampai bendera finish untuk memenangi Grand Prix Singapura, menandai kemenangan penting pada salah satu sirkuit paling menuntut di kalender. Di belakangnya Max Verstappen dan Lando Norris menutup podium, sementara McLaren merayakan gelar konstruktor yang menempatkan mereka kembali di jajaran elite tim-tim pemenang.
Kemenangan Russell bukan hanya catatan individu: hasil di Marina Bay itu memperlihatkan Mercedes mampu mengeksekusi balapan malam dengan sempurna, sedangkan Red Bull meski sempat diperkirakan kurang cocok di sirkuit jalanan, menunjukkan tanda-tanda kebangkitan lewat performa Verstappen sepanjang akhir pekan. Praktiknya Verstappen bahkan sempat tercepat, sebuah sinyal bahwa tim yang sempat tersendat kini mulai menyesuaikan diri kembali.
Dari sisi tim, McLaren memastikan gelar konstruktor tahun ini — gelar ke-10 dalam sejarah tim — setelah kombinasi poin dari Lando Norris dan Oscar Piastri cukup untuk mengunci gelar dengan beberapa seri tersisa. Kemenangan konstruktor mengukuhkan keberhasilan proyek teknis dan operasional McLaren musim ini: stabilitas performa mobil dan konsistensi kedua pembalap jadi kunci.

Namun bukan hanya perayaan yang mengisi paddock. Lomba di Singapura juga menyalakan kembali perdebatan internal soal apa yang media dan pengamat sebut “Papaya Rules” — kebijakan internal McLaren tentang bagaimana tim mengelola konflik antar-pembalap dan konsekuensi saat dua mobil ‘papaya’ bersinggungan. Insiden kontak di tikungan pertama antara Norris dan Piastri memicu frustrasi publik dari Piastri, dan memunculkan pertanyaan apakah McLaren akan menegakkan aturan internal itu secara ketat atau memilih tidak mengintervensi saat kejuaraan sedang diperebutkan.
Analisis singkat situasi pembalap McLaren: Piastri memimpin klasemen pembalap dan merasa dirugikan oleh insiden awal itu; Norris, yang memburu posisi Piastri, tampil agresif di awal balapan. Manajemen tim memilih tidak melakukan swap posisi atau penalti internal setelah balapan, sebuah keputusan yang pengamat nilai akan menjadi ujian bagi kredibilitas “Papaya Rules” — apakah aturan itu sekadar dokumen atau benar-benar diterapkan ketika tekanan tinggi.
Komentar resmi tim menyerukan dialog; Andrea Stella (team principal) menyebut akan ada pembicaraan “baik” dengan kedua pembalap, tapi pengamat menegaskan bahwa ketika kejuaraan memanas, pernyataan itu mudah diucap namun sulit diikuti dengan tindakan yang memuaskan semua pihak. Jika McLaren terus menahan intervensi, ketegangan antar pembalap bisa meningkat — dan itu berisiko menggerus sinergi yang diperlukan untuk mempertahankan keunggulan tim.
Di sisi lain paddock, perkembangan Red Bull dan Verstappen memberi warna tersendiri pada lanjutan musim. Verstappen finis kedua di Singapura dan menunjukkan adanya opsi strategi yang lebih baik pada beberapa sesi — tanda bahwa Red Bull belum menyerah dalam perburuan gelar dan mampu menekan di lintasan yang tidak ideal bagi mereka. Performa itu menjaga momentum dan menambah teka-teki taktis untuk seri-seri berikutnya.









