Home / Headline News / Krisis Banjir Global: Dari Sumatera, Aceh hingga Eropa, Kenapa Bencana Air Bah Melanda Dimana-mana?

Krisis Banjir Global: Dari Sumatera, Aceh hingga Eropa, Kenapa Bencana Air Bah Melanda Dimana-mana?

Indonesia dan sejumlah negara di dunia tengah menghadapi bencana banjir masif dan berulang sepanjang tahun 2025, yang menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang sangat besar. Frekuensi dan intensitas banjir yang meningkat ini memicu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi pada iklim dunia?

1. Kondisi Banjir Terkini di Indonesia

Pada penghujung tahun 2025, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terpukul oleh bencana hidrometeorologi, yang didominasi oleh banjir dan tanah longsor.

WilayahSkala BencanaDampak Utama
Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar)Sangat Parah (Banjir Bandang & Longsor)Bencana terparah tahun ini. Puluhan hingga ratusan orang meninggal dunia dan hilang (data per Desember 2025). Jutaan warga terdampak dan mengungsi. Kerusakan ekosistem hutan di hulu DAS disebut sebagai salah satu pemicu.
Malang Raya, Jawa TimurParah (Banjir Kota)Curah hujan ekstrem dalam waktu singkat melumpuhkan kota. Banjir mencapai 160 cm, puluhan titik terendam, dan kendaraan terseret arus. Dipicu buruknya drainase dan alih fungsi lahan.
Kota Lain (Jakarta, Kalimantan, dll)BervariasiBanjir dan cuaca ekstrem terjadi di berbagai daerah lain, seperti luapan sungai di Kalimantan, dan curah hujan tinggi yang memicu banjir di sejumlah kota di Jawa.

Secara nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 1.500 kejadian banjir terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2025.

2. Banjir di Berbagai Belahan Dunia (Global)

Fenomena cuaca ekstrem yang memicu banjir tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga kawasan Asia Tenggara dan bahkan benua lain:

  • Asia Tenggara: Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina juga dilanda banjir dan badai (Siklon Tropis) yang ekstrem. Vietnam mencatat rekor curah hujan hingga 1,7 meter hanya dalam 24 jam di beberapa titik.
  • Asia Timur: Tiongkok mengalami banjir besar di sepanjang Sungai Yangtze akibat hujan deras yang berkepanjangan.
  • Eropa: Sungai Rhine dan Seine di Eropa meluap, menyebabkan banjir di kawasan pemukiman dan wisata, seperti di Paris.
  • Amerika Selatan: Brasil dan Argentina mencatat ketinggian air Sungai Amazon tertinggi dalam beberapa dekade akibat curah hujan yang tidak terduga.

🧐 Mengapa Banjir Terjadi Serentak di Mana-mana?

Para pakar klimatologi dan bencana menyimpulkan bahwa banjir masif dan serentak di berbagai belahan dunia merupakan hasil dari konvergensi faktor alam dan faktor antropogenik (ulah manusia), yang diperparah oleh Perubahan Iklim Global.

Penyebab Utama (Faktor Global):

  1. Perubahan Iklim dan Curah Hujan Ekstrem:
    • Pemanasan Global menyebabkan atmosfer memegang lebih banyak uap air. Ketika uap air ini dilepaskan, ia menghasilkan hujan dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat—fenomena yang kini sering disebut “hujan ekstrem” atau “banjir bandang”.
    • Asia bahkan disebut sebagai kawasan yang mengalami pemanasan lebih cepat dari rata-rata global.
  2. Fenomena Iklim Gabungan (La Niña & IOD):
    • Di Asia Tenggara, banjir yang meluas di penghujung 2025 dipicu oleh perpaduan (duet langka) antara La Niña (pendinginan di Pasifik tengah yang menggeser panas ke barat) dan Dipol Samudra Hindia (IOD) negatif (menghangatnya perairan dekat Indonesia).
    • Kombinasi ini menciptakan “mesin kelembapan” yang secara drastis meningkatkan curah hujan di kawasan tersebut.

Penyebab Lokal (Faktor Manusia):

  1. Alih Fungsi Lahan dan Deforestasi: Di banyak wilayah, termasuk Sumatera, kerusakan ekosistem hutan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) menghilangkan fungsi hutan sebagai resapan air alami, sehingga air langsung mengalir deras ke hilir (kawasan pemukiman).
  2. Buruknya Tata Kelola Kota:
    • Sistem drainase dan gorong-gorong yang tidak memadai, tersumbat, atau dangkal tidak mampu menampung volume air hujan yang ekstrem.
    • Pembangunan masif di perkotaan menghilangkan area resapan air, mengubah tanah menjadi permukaan beton yang kedap air, sehingga air lari ke jalan-jalan.

Secara keseluruhan, banjir serentak ini adalah peringatan keras bahwa bumi sedang beradaptasi dengan suhu yang lebih tinggi, dan infrastruktur serta tata kelola lingkungan perlu diubah secara mendasar untuk menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang akan semakin sering terjadi di masa depan.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *